Sawit Tingkatkan Elektrifikasi di Kalbar

Oleh : Kormen Barus | Jumat, 13 September 2019 - 11:38 WIB

Kebun Kelapa Sawit (Ist)
Kebun Kelapa Sawit (Ist)

INDUSTRY.co.id, Pontianak–Sawit diyakini bisa meningkatkan elektrifikasi di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Ini mengingat di Kalbar merupakan penghasil sawit yang bisa dijadikan biofuel sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) maupun biomassa.

“Biomassa dihasilkan dari tangkos, cangkang, pelepah, dan batang sawit. Kami sudah melakukan penelitian dan berhasil,” kata Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Gusti Hardiansyah ketika menjadi pembicara di Seminar ‘Pengembangan Industri Kelapa Sawit Menuju Kemandirian Energi’ di Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), Rabu (11/9).

Hardiansyah mengatakan, pembangkit listrik biomassa ini bisa menjadi solusi untuk meningkatkan elektrifikasi, terutama di desa-desa sekitar kebun sawit. Manfaat listrik desa dari biomassa sawit ini bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan kebun sawit maupun hutan dan wilayah pedalaman. 

Manfaat lainnya, kata Hardiansyah, mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak (fosil) untuk pembangkit listrik. “Selain itu juga mereduksi potensi emisi gas rumah kaca dari sektor pembangkit listrik,” katanya.

Data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalbar menyebutkan dari 2.130 desa/kelurahan, terdiri dari desa berlistrik dari PLN sebanyak 1.451 (68%), desa berlistrik non PLN sebanyak 225 (11%) dan sisanya 454 desa (21%) belum teraliri listrik.

Diketahui, total luas kebun sawit di Kalbar sebanyak 1.455.182 hektare (ha) atau berada di urutan ketiga secara nasional di bawah Provinsi Riau seluas 2.430.508 ha dan Sumatera Utara (Sumut) 1.445.725 ha. Kalbar memiliki 70 pabrik kelapa sawit (PKS) dengan total produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO tiap tahunnya sekitar 3,396 juta ton. “Kalbar memberikan kontribusi sekitar 10% dari total produksi CPO nasional,” kata Hardiansyah.

Menurut Hardiansyah, dari total produksi CPO tersebut potensi biomassa di Kalbar sangat melimpah namun belum digarap secara optimal karena belum adanya hilirisasi produk turunan. Padahal dari limbah pabrik tersebut bisa dihasilkan energi biomassa maupun biofuel.

Dia menghitung dari total kebun sawit di Pulau Kalimantan sebanyak 3.471.843 ha bisa menghasilkan biomassa sekitar 396 MW dan biogas sekitar 198 MW. Karena itu, Hardiansyah optimistis jika semua itu bisa dioptimalkan, maka tidak akan ada lagi desa di Kalbar yang tidak teraliri listrik.

Sementara itu Gubernur Kalbar Sutarmidji mendukung sawit sebagai energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan manusia, terutama listrik dan sarana peningkatan keahlian tenaga kerja di Kalbar. Karena itu, dia menantang pengusaha perkebunan kelapa sawit untuk membangun gedung lembaga sertifikasi tenaga kerja. “Saya minta asosiasi sawit bangun itu gedung untuk sertifikasi tenaga kerja. Bisa gunakan dana corporate social responsibility (CSR) untuk bangun gedung tersebut,” katanya.

Diketahui, ribuan kepala keluarga (KK) di Kalbar menggantungkan hidupnya dari sawit. Terbukti, tidak ada lagi illegal logging karena terdiversifikasi oleh eksistensi sawit. Begitupun kawasan di pedalaman yang tumbuh karena sawit. Bahkan perkebunan sawit menutupi lahan-lahan kritis seluas lebih kurang 5 juta ha, akibat konsesi Hak Pengelolaan Hutan (HPH) yang tidak pernah dilakukan reboisasi.

Di tempat yang sama, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi) Tungkot Sipayung juga meyakini sawit bisa menjadi penyelamat ketersediaan energi di Tanah Air seiring dengan semakin menurunnya produksi minyak dan gas bumi. “Bahan baku tersedia, teknologi telah kita kuasai baik di hulu maupun di hilir. Saya yakin sawit bisa menjadikan Indonesia mandiri energi,” ujarnya.

Belum lama ini, kata Tungkot, telah dilakukan riset dan uji coba pengembangan katalis berbahan baku CPO. Riset yang dilakukan Institut Teknologi Bandung (ITB) didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan PT Pertamina (Persero) tersebut hasilnya CPO bisa diubah menjadi green diesel, green gasoline dan green avtur.

“Bahkan green avtur yang dihasilkan bisa tahan tidak beku di suhu di bawah -120 derajat celcius. Jadi sangat aman untuk bahan bakar pesawat terbang,” katanya.

Diketahui, green diesel merupakan minyak diesel yang berasal dari hidrogenasi minyak nabati yang memiliki kualitas lebih baik dibandingkan biodiesel dan ramah lingkungan. Selama ini beberapa korporasi di Indonesia telah memproduksi minyak nabati berbahan baku CPO menjadi biodisel (biofuel) atau fatty acid methyl ester (FAME) pengganti solar.

Pertamina melalui Refinery Unit III Plaju, Sumatera Selatan (Sumsel) sejak awal Desember 2018 lalu telah mengolah CPO menjadi green gasoline dan elpiji dengan teknologi co-processing. Hasil implementasi co-processing tersebut telah menghasilkan green gasoline octane 90 sebanyak 405 MB per bulan atau setara 64.500 Kilo Liter (KL) per bulan dan produksi green elpiji sebanyak 11.000 ton per bulan.

Upaya ini sangat mendukung pemerintah dalam mengurangi penggunaan devisa, dimana Pertamina bisa menghemat impor crude sebesar 7.360 barel per hari atau dalam setahun mampu menghemat hingga USD160 juta sekitar Rp2,32 triliun.

Menurut Tungkot, CPO merupakan bahan baku biodiesel paling kompetitif jika dibandingkan dengan minyak nabati lain, misalnya minyak kedelai (soybean), minyak rapeseed, minyak bunga matahari (sunflower). Hal ini disebabkan tanaman kelapa sawit lebih produktif jika dibandingkan dengan kedelai, rapeseed maupun tanaman bunga matahari.

Tungkot menjelaskan sawit bisa dijadikan berbagai macam produk energi. Di mana dalam pengembangannya terbagi menjadi tiga generasi. Generasi pertama yakni CPO atau minyak inti sawit mentah (crude palm kernel oil/CPKO) bisa dibuat menjadi biodiesel, green diesel, green gasoline, green avtur, biogas dan biolistrik.

Sementara itu generasi kedua, biomassa kelapa sawit bisa diubah menjadi bioetanol dan biolistrik. “Dan pengembangan generasi ketiga yakni limbah pabrik kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent (POME) bisa menghasilkan biodiesel, biogas, biodiesel alga, dan biolistrik.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ilustrasi Swab Test Covid-19 (ist)

Minggu, 24 Januari 2021 - 15:33 WIB

Anda Terpapar Covid-19? Jangan Panik, Hubungi Satgas Covid Terdekat! Perawatan di Puskesmas hingga RS Dijamin Gratis...

Pemerintah melalui Tim Satgas Nasional Covid-19 terus meminta masyarakat agar dapat meningkatkan kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan. "Mengingat semakin banyaknya penularan COVID-19,…

Mendikbud Nadiem Anwar Makarim

Minggu, 24 Januari 2021 - 15:01 WIB

Waduh Bahaya! Ungkap Risiko Mengerikan dalam PJJ, Nadiem Desak Pemda Segera Lakukan Sekolah Tatap Muka

Risiko kehilangan kemampuan dan pengalaman belajar pada siswa atau lost learning muncul dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ). Dengan demikian, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem…

GBG

Minggu, 24 Januari 2021 - 15:00 WIB

GBG: Enam Prediksi Layanan Finansial dan Lansekap Fraud di Tahun 2021

Tahun 2020 telah mendorong Lembaga Keuangan (LK) untuk mengedepankan perencanaan, implementasi dan optimalisasi teknologi, terlebih ketika sejumlah 71% pembuat keputusan di bidang teknologi…

Dirjen ILMATE Kemenperin Taufiek Bawazier

Minggu, 24 Januari 2021 - 14:00 WIB

Dukung Program Polisi 4.0, Kemenperin Siap Pasok Teknologi Canggih untuk Polri

Kementerian Perindustrian mendukung upaya kementerian dan lembaga yang menerapkan teknologi industri 4.0 dalam menopang aktivitasnya agar lebih produktif dan efisien, salah satunya Kepolisian…

Zoe Jakson (Foto Dok Warta Kota)

Minggu, 24 Januari 2021 - 14:00 WIB

Akting Artis Zoe Jackson di Sinetron Buku Harian Seorang Istri Ditunggu Netizen

Sinetron Buku Harian Seorang Istri, makin seru karena persoalan yang munculnya makin seru. Apalagi kisahnya menikah tanpa dilandasi rasa cinta, apalagi mereka masih belia. Meski terus disakiti…