Wacana Kenaikkan Harga Gas Bumi "Bunuh" Sektor Industri

Oleh : Ridwan | Selasa, 20 Agustus 2019 - 10:45 WIB

Ketua Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus Gunawan
Ketua Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus Gunawan

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Sejumlah asosiasi industri mencemaskan wacana kenaikan (penyesuaian) harga gas bumi untuk industri yang dilakukan oleh Perusahaan Gas Negara (PGN) dalam waktu dekat. Pasalnya, gas bumi menjadi penyumbang terbesar dalam cost produksi sejumlah pabrik industri. 

Tak hanya itu, wacana kenaikaan harga gas bumi untuk industri juga dinilai sebagai kemunduran sektor migas di Tanah Air. 

Ketua Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus Gunawan mengatakan, wacana kenaikkan harga gas bumi untuk industri oleh PGN sangat mencemaskan. Menurutnya, hal ini bertentangan dengan tekad pemerintah yang tengah menggenjot ekspor, menaikkan investasi, dan meningkatkan serapan tenaga kerja. 

"Kenapa PGN tiba-tiba ingin menaikkan (menyesuaikan) harga gas bumi?. Seharusnya menurunkannya, karena iuran migas melalui pipa telah diturunkan melalui PP 48/2019. Seharusnya, PGN ikut memperjuangkan pelaksanaan Perpres Nomor 40/2016 tentang penutunan harga gas bumi untuk 4 sektor industri," kata Yustinus saat dihubungi Industry.co.id di Jakarta, Selasa (20/8).

Ditambahkan Yustinus, kenaikkan harga gas bumi untuk industri pastinya akan berdampak pada makin tingginya ongkos produksi, serta memburuknya daya saing industri nasional. "Dengan begitu, impor akan semakin menggila, dan ekspor akan terhambat. Current Account Deficit akan semakin besar, produksi menciut ke level minimum, pengurangan tenaga kerja baik langsung ataupun tidak langsung, serta menggetarkan investasi yang akan masuk dan mengurangi pajak-pajak karena menurunnya penghasilan," papar pria yang sering disapa Yus.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, seharusnya energi dapat memperkuat daya saing industri nasional, sehingga dapat bernilai tambah, serta dijadikan sumber pendapatan secara langsung, bukan malah menjatuhkan daya saing industri nasional. "Kehilangan daya saing pasti berdampak pada keberlangsungan industri nasional. Pemutusan hubungan kerja (PHK) mungkin saja terjadi, karena ongkos produksi semakin mahal," terangnya.

Yustinus mencontohkan, baru-baru ini salah satu anggota AKLP produsen kaca lembaran telah melakukan kerja sama (Joint Venture) dengan perusahaan asal Jepang untuk menggenjot kapasitas produksi dengan optimisme pemerintah pasti melaksanakan Perpres Nomor 40/2016. 

"Kalau sekarang PGN akan menaikkan harga gas bumi, bagaimana nasib investasinya?," kata Yustinus.

Ditempat terpisah, Wakil Komite Tetap Industri Hulu dan Petrokimia Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Achmad Widjaja melihat instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui Perpres Nomor 40/2016 tidak dianggap. 

"Wacana kenaikkaan (penyesuaian) harga gas bumi untuk industri menjadi bukti bahwa industri migas sudah tidak peduli atas ketahanan energi, walaupun pemerintah sudah siapkan ketahanan sandang, pangan dan papan begitu rapih," terang Achmad Widjaja.

Ia berharap, seluruh sektor industri mampu menuju target ekspor sesuai arahan Presiden Jokowi. "Seharusnya energi menjadi dukungan utama dengan segala cara, tidak ada perubahan dikala perlu subsidi agar terobosan daya saing lebih efektif," tuturnya.

Sekedar informasi, PGN telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh pelanggan komersial dan industri perihal implementasi pengembangan produk dan layanan PGN kepada pelanggan. Dalam surat edaran tertanggal 31 Juli 2019, diterangkan bahwa "Dengan mempertimbangkan berbagai aspek, maka PGN akan melakukan penyesuaian terhadap harga jual Gas kepada pelanggan Komersial Industri yang akan diberlakukan sejak 1 Oktober 2019. Penyesuaian harga gas tersebut telah mempertimbangkan seluruh aspek yang terkait dalam tata niaga Gas Bumi Indonesia". 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

All New Suzuki Carry Pick Up

Sabtu, 16 November 2019 - 08:02 WIB

Meski Industri Otomotif Melambat, Suzuki Berhasil Tingkatkan Penjualan Hingga 7 Persen pada Oktober 2019

PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) kembali menorehkan penjualan positif di tengah melambatnya pertumbuhan industri otomotif di Indonesia. Pada bulan Oktober 2019, Suzuki berhasil meningkatkan penjualan…

Direktur Utama Telkom Indonesia Ririek Adriansyah (kanan) saat menerima penghargaan Frost & Sullivan Asia-Pacific Best Practices Awards 2019

Sabtu, 16 November 2019 - 07:13 WIB

TelkomGroup Borong Empat Penghargaan Internasional pada Frost & Sullivan 2019

Jakarta – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) kembali meraih penghargaan tingkat internasional. Frost & Sullivan Asia-Pasifik menobatkan Telkom sebagai “2019 Indonesia IoT Services…

PT Waskita Karya Realty gelar ttopping off Tower Alder, Vasaka Nines

Sabtu, 16 November 2019 - 07:00 WIB

Hunian Eksklusif Karya Waskita, Apartemen Vasaka Nines di BSD

PT Waskita Karya (Persero) Tbk (kode saham: WSKT) pada hari Jumat, 8 November 2019 melalui Anak Perusahaannya PT Waskita Karya Realty (Waskita Realty) melakukan topping off Tower Alder Vasaka…

Direktur Human Capital Manajemen Telkom Indonesia Edi Witjara (kedua dari kiri) bersama Ketua Umum Pengurus Besar Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB GABSI) Miranda Goeltom (kedua dari kanan), Ketua Badan Pembina GABSI Michael Bambang Hartono (paling kiri), serta Ketua TelkomGroup Bridge Club Rakhmad Tunggal Afifuddin

Sabtu, 16 November 2019 - 06:58 WIB

TelkomGroup Gelar Turnamen Bridge Telkom Indonesia Open 2019

Jakarta – Direktur Human Capital Manajemen PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) Edi Witjara bersama Ketua Umum Pengurus Besar Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB GABSI) Miranda Goeltom…

Direksi Bank Bukopin memainkan angklung

Sabtu, 16 November 2019 - 06:52 WIB

Empat Kredit Ini Dibidik Bukopin Capai Rp3 Triliun

Bandung - Bank Bukopin Tbk mulai memanfaatkan kredit yang berisiko kredit macet seminim mungkin bahkan harapannya nol persen. Inovasi kredit tersebut adalah Flexy Bill, Flexy Gas, Flexy Health,…