INDUSTRY.co.id - Jakarta - Usai pengumuman tentang peluncuran 5G baru-baru ini, Singapura dihebohkan dengan berbagai kemungkinan yang diharapkan dari kehadirannya. Para pemimpin perusahaan menggembar-gemborkan "ekosistem 5G, yang dinamis", sebagai faktor kunci dalam ekonomi digital yang kompetitif.
5G, atau Generasi ke-5, adalah istilah umum, yang digunakan untuk mengacu pada perkembangan baru dalam ranah telekomunikasi, yang dianggap “selangkah lebih maju” jika dibandingkan dengan teknologi 4G.
Secara relatif, 5G meningkatkan kecepatan dan latensi data dengan meningkatan kecepatan data 10 hingga 100 kali serta membidik latensi 20 hingga 40 kali lebih rendah dan dengan demikian memperpendek waktu yang dibutuhkan sinyal untuk mencapai satu titik dari titik lain.
"Dalam praktik, 5G memungkinkan seseorang mengunduh (secara legal, tentunya) film ultra high-definition (HD) hanya dalam beberapa detik dengan kata lain, secepat kilat bila dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan oleh 4G," jelas Sachin Mittal, Regional TMT Research, Bank DBS berdasarkan informasi DBS Group Research terkait 5G di Indonesia baru-baru ini.
Peramal masa depan membayangkan bahwa, dalam waktu tidak terlalu lama, orang dapat menonton film di mobil otonom (yang juga didukung 5G), yang akan mengantarnya ke tempat kerja, dengan segala sesuatu telah sepenuhnya dilakukan secara otomatis oleh robot.
"Bayangkan keadaan jalan raya pada jam sibuk. Sekarang, bayangkan jalan raya tersebut sebagai jaringan telekomunikasi dan kendaraan yang lalu-lalang di sana sebagai byte data," kata Sachin.
Untuk memperlancar arus lalu lintas di jalan raya padat tersebut, lanjut ia dua hal perlu terjadi, yakni kendaraan harus melaju lebih cepat, atau menambahkan jalur baru untuk menampung lebih banyak kendaraan.
Kini, "jalan raya" 4G sudah beroperasi dengan kapasitas penuh. Batas maksimum telah dicapai. Semua jalurnya penuh dengan kendaraan, yang melaju dengan kecepatan maksimum.
"Bayangkan 5G, jalan raya lebih lebar dengan kapasitas lebih besar untuk menampung lebih banyak kendaraan. Namun, apa gunanya lebih banyak jalur tanpa disertai dengan kecepatan lebih tinggi?," ujar Sachin.
Untungnya, kata Sachin 5G menggunakan teknologi Massive Multiple Input and Multiple Output (mMIMO), yang memungkinkan setiap kendaraan melintas 1,5 hingga 5,0 lebih cepat dari biasanya.
Penerapan teknologi 5G memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam hal penggunaan teknologi mMIMO, yang mensyaratkan penggunaan spektrum frekuensi tinggi. Secara analog, meski lebar, sebenarnya panjang efektif jalur operasional 5G sangat pendek.
"Pada dasarnya itu berarti bahwa operator telekomunikasi harus terus menambahkan berbagai struktur pendukung untuk memperpanjang jalur 5G," tambah Sachin.
Di dunia nyata, struktur pendukung itu disebut base station (perangkat pengirim dan penerima sinyal) dan digunakan untuk memperluas jangkauan nirkabel.
5G tidak hanya membutuhkan lebih banyak base stations, biaya setiap stasiun kemungkinan jauh lebih mahal. Menurut perkiraan konservatif, kita memerlukan 4,0 hingga 5,0 kali lebih banyak base station untuk mendukung teknologi 5G.
Biaya setiap base station 5G mungkin 20 hingga 30 persen lebih tinggi, serta mengkonsumsi daya tiga kali lebih banyak.
Mobil otonom digadang-gadang sebagai bukti penerapan teknologi 5G. Sementara sebagian besar pemain 5G mengklaim bahwa 5G beroperasi pada tingkat latensi kurang dari 30 milidetik, angka itu masih jauh di atas tingkat yang diperlukan oleh mobil otonom agar berfungsi lebih optimal (1 hingga 2 milidetik).
"Dengan mempertimbangkan faktor tersebut, investasi besar-besaran juga harus dilakukan di bidang itu," jelas Sachin.
Singkatnya, peluncuran jaringan 5G membutuhkan modal sangat besar. Yang lebih penting, apakah konsumen bersedia menanggung biaya untuk menikmati segala "kenyamanan" teknologi 5G?
"Kami tidak berpendapat demikian, kecuali jika 5G dapat membantu konsumen mengakses kenyamanan baru, atau memangkas biaya di tempat lain. Perusahaan, di sisi lain, mungkin akan bersedia merogoh kocek demi 5G jika hal tersebut membantu mereka mendapatkan sumber pendapatan baru bagi bisnis mereka," jelasnya.