INDUSTRY.co.id - Keyakinan bahwa bisnis di tahun Ayam Api ini bakal jauh lebih baik diamini oleh manajemen Bank Mandiri. Disampaikan Kartika Wirjoatmodjo, direktur utama bank berkode BMRI di lantai bursa ini saat paparan kinerja pertengahan Februari lalu di Jakarta (16/2), membaiknya perekonomian domestik akan membuat kinerja industri yang selama ini dibiayai oleh perbankan akan ikut bergairah dan bisa kembali mencetak laba. Bergairahnya industri, tentunya akan ikut mengurangi beban kredit bermasalah (non performing loans/NPL) pada perbankan.
Salah satu sisi positif menurunnya NPL pada perbankan, maka bank tak perlu menyisihkan terlalu banyak biaya pencadangan, dan tak akan mengurangi nilai laba bersih yang dicetak perusahaan. Terkoreksinya laba bersih akibat pencadangan setidaknya sempat dialami oleh Bank Mandiri pada tahun 2016 lalu.
“Penurunan laba bersih perseroan tahun lalu disebabkan peningakatan tambahan biaya pencadangan (provisi) yang mencapai Rp 24, 64 triliun, meningkat tajam dari tahun sebelumnya Rp 12,04 triliun,” ujar Kartika yang akrab dipanggil Tiko ini.
Nah pada tahun ini, BMRI optimistis mampu mencetak laba bersih sekitar Rp20 triliun, terkerek 44,8% dari laba tahun lalu yang mencapai Rp 13,81 triliun. Menurut Tiko, proyeksi laba yang dipatok untuk tahun ini mendekati perolehan laba 2015 yang sebesar Rp20,33 triliun. Dalam kesempatan yang sama, Direktur Keuangan Pahala Mansury mengungkapkan, biaya pencadangan perseroan diharapkan turun signifikan ke kisaran 30%-40% seiring turunnya rasio NPL gross ke level 3,5%. Dengan demikian, laba bersih Bank Mandiri akhir tahun ini diharapkan mendekati laba bersih perseroan pada 2015 yang mencapai Rp 20,33 triliun.
Soal tingkat NPL bank-bank di dalam negeri termasuk Bank Mandiri, menurut Kartika, telah mencapai angka tertinggi. Dan ia berharap pada tahun ini akan terjadi tren penurunan NPL yang signifikan. “Sehingga pencadangan juga turun signifikan," imbuhnya. Peningkatan pencadangan Bank Mandiri pada tahun lalu, salah satunya memang dipicu meningkatnya rasio NPL gross dari 2,6% pada 2015 menjadi 4% pada akhir 2016. Sedangkan NPL net naik dari 0,9% menjadi 1,53%.
Pada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), optimisme kenaikan laba di tahun ini ditopang oleh faktor berbeda, yakni ekspansi kredit. Disampaikan Wakil Direktur Utama BRI Sunarso, di tengah perlambatan ekonomi global yang masih berlanjut, perseroan tetap optimistis mencatat kinerja keuangan yang positif terutama karena berbagai insiatif yang terus dilakukan untuk mendorong pertumbuhan kinerja usaha. Dari sisi penyaluran kredit, perseroan menargetkan penyaluran kredit di 2017 akan tumbuh 12%-14% seiring dengan target yang dicanangkan oleh pemerintah. “Kredit sektor mikro masih menjadi kontributor dalam penyaluran kredit perseroan,” ujar Sunarso akhir Januari lalu di kantornya beberapa waktu lalu.
Terkait laba yang akan dicapai pada tahun ini, bank berkode BBRI di lantai bursa ini menargetkan pertumbuhan laba bersih cuko tipis di kisaran 3%-5%. Menurut Asmawi Syam, Direktur Utama Bank BRI, pertumbuhan laba bersih Bank BRI tidak terlepas dari prinsip kehati-hatian yang dipegang teguh perseroan. Sehingga setiap tahun, perseroan secara konsisten mencatat pertumbuhan laba bersih dan menempati posisi tertinggi secara industri. “Laba BRI tetap mengalami pertumbuhan karena BRI menjaga seluruh jajaran untuk selelau menerapkan prudential banking principles secara baik,” ujarnya.
Di tahun 2016, BRI mencatat laba bersih konsolidasi sebesar Rp25,7 triliun atau tumbuh 2% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp25,2 triliun.
Pada 2016, portofolio kredit Bank BRI tercatat sebesar Rp 635,3 triliun atau tumbuh 13,8% dari sebelumnya Rp 558,4 triliun di 2015. Pertumbuhan kredit perseroan telah melampaui pertumbuhan kredit industri yang tercatat 8,46% per November 2016. Menurut Asmawi, pertumbuhan kredit yang tercatat di tas rata-rata pertumbuhan industri ini ditopang oleh kredit mikro yang memiliki proporsi 33,3% dari total penyaluran kredit BRI. Kredit mikro tercatat tumbuh 18,2% menjadi Rp 211,5 triliun dari sebelumnya Rp 178,9 triliun di 2015.
Sementara itu, setelah berhasil mencatatkan kinerja laba cukup menggembirakan pada tahun 2016, tahun ini manajemen yakin bisa mengulangi capaian tersebut. Usai paparan kinerja tahun 2016, Wakil Direktur Utama BNI, Suprajarto menyatakan pihaknya menargetkan pertumbuhan laba 25% pada tahun ini. Tahun lalu, perseroan membukukan laba bersih Rp11,34 triliun, naik 25,10% dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp9,07 triliun.
“2017 kita masih optimis, target laba saya yakin lebih tinggi dari 2016. Loan kurang lebih 15-17 persen,” ujar Suprajarto di Kantor Pusat BNI, Jakarta beberapa waktu lalu.
Dari sisi kredit, terjadi pertumbuhan sebesar 20,6% dari Rp326,11 triliun menjadi Rp393,28 triliun pada tahun lalu, yang mayoritas diserap segmen korporasi dengan porsi mencapai 24,30%. Namun demikian, BNI menyatakan siap melaksanakan arahan Presiden Joko Widodo agar perbankan memperbesar porsi kredit ke segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
“Kita akan fokus dukung pertumbuhan UMKM, merata di seluruh daerah. KUR (Kredit Usaha Rakyat) juga ke sektor yang lebih produktif, pertanian dan perikanan tapi bukan berarti lepas perdagangan,” paparnya. Selain mulai fokus ke segmen UMKM, perseroan juga tetap bergerak ke sektor infrastruktur yang masih sangat potensial. Di luar sektor-sektor tadi, BNI disebutkan bakal membuka eksposur kreditnya ke segmen pekerja migran Indonesia atau tenaga kerja Indonesia (TKI). “Kita juga akan garap TKI, bukan hanya remittance tapi juga bisnisnya. Ini belum ditangkap oleh perbankan di Indonesia yang punya cabang luar negeri,” kata Suprajarto.
Tak berbeda jauh dengan para koleganya, manajemen PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) pada tahun ini mematok target minimal pertumbuhan laba BTN naik 20%. Jika dikalkulasi berdasarkan laba 2016 yang mencapai Rp2,61 triliun, maka laba BTN tahun ini setidaknya akan mencapai Rp3,13 triliun.
Kondisi perekoomian naisonal yang kembali menggeliat lagi-lagi menjadi dasar manajemen untuk menetapkan target yang cukup agresif tersebut. “Kondisi ekonomi tahun ini mulai menunjukkan geliat positif serta berbagai kebijakan pemerintah dan regulator yang mendukung perkembangan sektor properti,” kata Direktur Utama BTN Maryono dalam paparannya di Jakarta (13/2).
BTN pun masih akan tetap mengandalkan bisnis kredit pemilikan rumah (KPR) dengan berkomitmen mendukung Program Sejuta Rumah hasil inisiasi Presiden Joko Widodo. BTN menargetkan penyaluran pembiayaan akan naik berkisar 21% hingga 23%, dengan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 22% sampai 24%.