Beban Ganda Gizi Buruk di Indonesia

Oleh : Andi Mardana | Senin, 12 Agustus 2019 - 15:10 WIB

Ilustrasi sayur dan buah.(Pixabay)
Ilustrasi sayur dan buah.(Pixabay)

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Populasi global tengah menghadapi krisis yang saling terkait, mencakup kemiskinan, masalah gizi buruk (gizi kurang dan kegemukan), juga masalah kesehatan (mortalitas dan morbiditas anak).

Prof. Martin W Bloem selaku Professor of John Hopkins Bloomberg School of Public Health menjelaskan ada 5 miliar orang tinggal di kawasan di mana gizi buruk dan kematian anak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.

Bloem yang juga menjabat sebagai Director of Center for Livable Future menerangkan, guna memutus mata rantai ini, konsumsi makanan bergizi harus berkelanjutan.

"Pelaku usaha dalam hal ini dapat berkontribusi dengan menyediakan makanan bergizi, antara lain dengan fortifikasi," kata Bloem di ajang Asian Congress of Nutrition (ACN) 2019 bertajuk ‘Nutrition and Food Innovation for Sustained Well-being’ di Jakarta baru-baru ini.

Terkait masalah gizi, lndonesia saat ini menghadapi beban ganda (double burden). Di satu sisi Indonesia menghadapi masalah gizi kurang (pendek/stunting, dan kurus), di sisi lain Indonesia telah dihadapkan pada masalah obesitas atau kegemukan.

Selain beban ganda masalah gizi, Indonesia juga dihadapkan pada masalah kekurangan gizi mikro, yang berpotensi menjadi hidden hunger (bentuk kekurangan gizi mikro berupa defisiensi zat besi, yodium, asam folat, vitamin A dan beberapa jenis vitamin B yang tersembunyi).

Hidden hunger ini memiliki dampak serius karena dari luar tidak menampakkan gejala, namun sebenarnya masalah itu ada (penderitanya jadi gampang sakit).

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi stunting menurun menjadi 30,8 persen dari 37,2 persen di 2013, prevalensi gizi kurang (underweigth) juga membaik dari 19,6 persen pada 2013 menjadi 17,7 persen (2018), sedangkan prevalensi kurus (wasting) turun ke posisi 10,2 persen (2018) dari 12,1 (2013).

Meskipun angka stunting menurun, masih belum memenuhi syarat yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu di ambang batas 20 persen.

Senada dengan Prof Bloem, Prof Purwiyatno mengatakan masyarakat Indonesia masih mengalami kekurangan gizi mikro, seperti yodium, vitamin A, zat besi, hingga mineral lainnya.

Prof Purwiyatno mengatakan, kemiskinan masih menjadi faktor utama penyebab munculnya masalah gizi ini.

"Karena miskin, tidak semua lapisan masyarakat bisa mendapatkan makanan sehat dengan mudah, sehingga harus dicarikan solusinya, antara lain fortifikasi pangan oleh dunia usaha," ujarnya.

Fortifikasi pangan merupakan metode untuk menitipkan senyawa penting yang diperlukan ke makanan untuk meningkatkan nilai gizinya, sehingga lebih mudah dijangkau masyarakat.

"Vitamin A misalnya, lazim dimasukkan ke produk margarin dan minyak goreng. Sementara yodium dimasukkan ke dalam garam," tutur Prof Purwiyatno.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ilustrasi Walikota Surabaya Risma dan Gubernur Jatim Khofifah (ist)

Senin, 06 Juli 2020 - 08:30 WIB

Gawat! Penambahan Pasien Positif 1.607 Orang per Hari, Yurianto: Jatim Tertinggi Cetak 552 Kasus Baru

Mata rantai penularan virus SARS-CoV-2 belum berhenti. Hingga saat ini menurut hasil konfirmasi data gugus tugas nasional ada penambahan kasus positif COVID-19 berjumlah 1.607 orang sehingga…

Presiden Jokowi (ist)

Senin, 06 Juli 2020 - 08:11 WIB

Tolong Catat! Jokowi: Tatanan Hidup Baru Ini Bukan untuk Mengekang, Tapi untuk Kesehatan Kita Bersama

Presiden Joko Widodo (Jokowidalam sebuah postingan di platform sosial media Facebook miliknya @Presiden Joko Widodo, Minggu (5/7) menjelaskan bagaimana masyarakat berperilaku dalam tatanan hidup…

Bantuan Penanganan Covid-19 di Jawa Timur

Senin, 06 Juli 2020 - 07:05 WIB

Menko Polhukam dan Menteri BUMN Serahkan Bantuan untuk Penanganan Covid-19 di Jawa Timur

Berbagai bantuan terus mengalir di tengah pandemi Covid-19, seperti yang dilakukan oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menyalurkan berbagai kebutuhan untuk mendukung upaya…

Ilustrasi Jiwasraya (Sindonews.com)

Senin, 06 Juli 2020 - 07:00 WIB

DPR Tekankan Pentingnya Pengembalian Hak Nasabah Jiwasraya

Nasib nasabah asuransi Jiwasraya tidak bisa diabaikan dalam proses penegakan hukum. Oleh sebab itu Anggota Komisi III DPR RI Taufik Basari menegaskan agar Kejaksaan melalui Jaksa Agung Muda…

IHSG (Foto/Rizki Meirino)

Senin, 06 Juli 2020 - 06:12 WIB

Aduh... IHSG Berpotensi Konsolidasi

Gelombang tekanan terlihat belum akan berakhir dalam pergerakan IHSG, hal ini juga diiringi oleh sentimen dari pergerakan market global dan regional serta capital outflow yang masih terjadi…