Dorong Ekspor Lewat Perbaikan Pascapanen Kopi

Oleh : Wiyanto | Kamis, 08 Agustus 2019 - 06:53 WIB

Kakao (kakaoindonesia)
Kakao (kakaoindonesia)

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kopi merupakan salah satu dari 10 (sepuluh) komoditas unggulan ekspor Indonesia selain minyak kelapa sawit, karet, produk karet, kakao, tekstil dan produk tekstil, kayu dan kayu olahan, kertas dan produk kertas, ikan dan hasil laut, batubara dan nikel. Neraca nilai ekspor impor kopi Indonesia selama tahun 2017 memperlihatkan positif sebesar 20,27%, sedangkan neraca volume menunjukkan 3,55% (Indonesia Eximbank, 2019).

“Upaya menggenjot ekspor penting dilakukan untuk menciptakan devisa negara. Salah satu faktor yang mempengaruhi ekspor komoditi perkebunan termasuk kopi ialah kualitas atau mutu produk yang dihasilkan. Untuk itu penanganan pascapanen harus dilakukan dengan baik. Riil yang terjadi bahwa petani kopi di Indonesia masih mengalami kendala dalam melaksanakan pascapanen yang baik. Menyadari akan hal ini, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan terus menerus melakukan fasilitasi sarana pascapanen untuk memperbaiki mutu hasil kopi petani,” kata Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian (Mentan) di Jakarta, Rabu (7/8/2019).

Amran menambahkan, Perbaikan pascapanen juga salah satu upaya untuk meningkatan nilai tambah produk yang dihasilkan petani. Penanganan pascapanen yang baik akan meningkatkan nilai tambah dan juga mendorong perbaikan mutu produk. Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi sentra kopi di Indonesia dengan luas areal perkebunan kopi di Jawa Tengah tahun 2017 seluas 39.861 Ha. Dalam upaya mendukung pengembangan kopi di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Tengah, Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian telah mengalokasikan anggaran melalui APBN untuk kegiatan pengembangan pascapanen kopi di Jawa Tengah sejak tahun 2011.

Fasilitasi pascapanen yang berupa sarana pascapanen kopi baik untuk pengolahan basah maupun kering dilakukan oleh pemerintah dalam upaya mendorong petani melakukan praktik pascapanen kopi yang baik dan benar (Good Handling Practices/GHP). Dari fasilitasi sarana pascapanen yang dilakukan oleh Ditjen Perkebunan kepada kelompok tani kopi, telah memberikan kemajuan. Hal ini dapat di dilihat di beberapa kelompok yang telah melakukan kemitraan dengan pihak lain baik mitra lokal maupun supplier exportir serta telah memperbaiki pascapanennya.

Diantara beberapa kelompok tani yang telah menjalin kemitraan antara lain Kelompok Tani Tegal Makmur 2 yang ada di Kecamatan Jumprit, Kabupaten Temanggung telah menjalin kemitraan dengan Café Sumber Sari Progo DIY, PT. Toya Gesang Lestari dan Wali Limbung Café. Kelompok tani Sumber Berkah yang ada di Kecamatan Grabag, Kabuupaten Magelang yang telah menjalin kemitraan dengan Cipta Kopi Magelang serta Kub Mandiri Sejahtera yang ada di Desa Ngrancah, Kabupaten Megelang yang telag bermitra dengan Kafe Warung Gunung Magelang, Harinco Craft Magelang, Griyo Dahar Soponyono Magelang, Cello Celli Coffee Jogjakarta dan Karya Petani Nusantara Jogjakarta. Selain kelompok tani tersebut, di Kabupaten Pemalang juga terdapat kelompok tani yang telah memiliki mitra dan kelembagaan yang baik, yakni kelompok tani Karya Harapan di Kabupaten Pemalang yang telah memproduksi kopi Gurilang.

Namanya kopi Gurilang, singkatan dari Gunung Sari Pemalang. Gurilang memang salah satu produk kopi unggulan Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Asal nama gurilang adalah gabungan dari nama desa tempat produksi kopi, Desa Gunungsari dan Kabupaten Pemalang. Kopi ini diproduksi oleh kelompok tani Karya Harapan, yang didirikan pada tahun 2004. Kelompok tani ini dinahkodai oleh Fajar Budiyuwono. Selain kopi bubuk dengan merk Gurilang, kelompok tani ini juga telah memproduksi Cascara Tea, Parfum Kopi, dan Masker Kopi. Saat ini Gurilang Kopi telah bermitra dengan Legita Cafe yang ada di Kota Pemalang dan dan juga Tana Merah Café yang dimiliki buyer dari Korea.

Fajar Budiyuwono, menyatakan bahwa awalnya, yaitu tahun 2004, kopi di Desa Gunungsari belum dikelola masyarakat dengan baik, pemetikan juga masih seenaknya, dalam arti kopi yang masih hijau sudah dipetik asalkan buahnya sudah keras. Melihat kondisi ini, Fajar yang merupakan putra Desa Gunungsari dan juga alumni Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) yang dilaksanakan pemerintah merasa terpanggil untuk memperbaiki kopi yang ada di desanya. Dari bekal ilmu yang dimiliki selama mengikuti SLPHT, Fajar kemudian mengajak pemuda-pemuda desa untuk memperbaiki kondisi kopinya. Pada awalnya kelompok menjual buah merah kopi kepada pengepul di Kabupaten Wonosobo dengan hargaRp. 2000/kg untuk kopi jenis robusta dan Rp. 3.000/Kg untuk kopi jenis Arabica. Kondisi ini berlangsung sampai dengan tahun 2010. Mulai tahun 2011, Fajar dan teman-teman kolompoknya mulai berfikir untuk memproduksi greenbean karena harga kopi saat itu mulai meningkat.

Setelah mencoba menggali informasi, pada tahun 2014 Kelompok Tani Karya Harapan mencoba mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa untuk bantuan sarana pascapanen kopi.

“Kami mencoba usul kepada pemerintah kabupaten dan diteruskan kepada provinsi untuk meminta bantuan alat pascapanen kopi, Alhamdulillah Akhirnya tahun 2015 ada bantuan Fasilitasi Sarana Pasapanen dari Ditjen Perkebunan melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah”, demikian ungkap Fajar di sela-sela kesibukannya mengawasi pekerjanya Bantuan Ditjen Perkebunan tahun 2015 berupa Huller (1 unit), Pulper (1 unit), Timbangan Duduk (1 unit), Para-para dan terpal ( 8 buah), Alat Ukur Kadar Air (1 unit l), dan Bangunan UPH sebanyak 1 unit.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Jakarta Blues International Festival 2019(Foto Dok Industry.co.id0

Sabtu, 24 Agustus 2019 - 21:00 WIB

Jakarta Blues International Festival 2019

Apa kabar Blues di Indonesia? …Silahkan jawab versi Anda sendiri… tapi yang pasti para penggemar-nya sedang bersiap-siap berpesta bersama di acara Jakarta Blues International Festival yang…

Deklarasi Teman Juara

Sabtu, 24 Agustus 2019 - 19:55 WIB

Deklarasi Teman Juara, Ajak Generasi Milenial Berpartisipasi Kembangkan Pariwisata di Era Revolusi Industri 4.0

Teman Juara akan menumbuhkan semangat juara di berbagai bidang. Misalnya ketika ada yang tidak pahaman tentang bagaimana mempromosikan potensi sebuah daerah dari berbagai aspek sosial ekonomi,…

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih

Sabtu, 24 Agustus 2019 - 19:05 WIB

Kemenperin Bidik 10 Ribu IKM Masuk Pasar Online

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan sebanyak 10 ribu pelaku IKM dari berbagai sektor dapat masuk ke pasar online melalui program e-Smart IKM selama periode tahun 2017-2019. Mereka…

Bambang Soesatyo Ketua DPR RI (Foto Dok Industry.co.id)

Sabtu, 24 Agustus 2019 - 19:00 WIB

Para Pemimpin Negeri Harus Berkomitmen Kuat Wujudkan Persatuan Bangsa

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menegaskan pasca Pemilu 2019 yang telah menguras banyak tenaga dan pikiran, harus ditindaklanjuti dengan mengisi kembali pembangunan. Tidak bisa dipungkiri,…

Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Gati Wibawaningsih

Sabtu, 24 Agustus 2019 - 18:30 WIB

Kemenperin Targetkan 250 Peserta Beradu Inovasi di IGDS 2019

Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) kembali melakukan acara sosialisasi Indonesia Good Design Selection (IGDS) 2019. Tahun 2019 ini,…