Industri Mamin Jadi Sektor Kampiun

Oleh : Kormen Barus | Sabtu, 06 April 2019 - 12:57 WIB

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat meninjau pabrik pengolahan kopi Mayora Group (Foto: Kemenperin)
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat meninjau pabrik pengolahan kopi Mayora Group (Foto: Kemenperin)

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Produk makanan dan minuman Indonesia telah dikenal memiliki daya saing di kancah global melalui keragaman jenisnya. Ini ditandai dengan capaian nilai ekspornya sebesar USD29,91 miliar pada tahun 2018.

Industri makanan dan minuman menjadi salah satu sektor manufaktur andalan dalam memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Capaian kinerjanya selama ini tercatat konsisten terus positif, mulai dari perannya terhadap peningkatan produktivitas, investasi, ekspor hingga penyerapan tenaga kerja.
MenteriPerindustrian Airlangga Hartarto ketika mendampingi Presiden Joko Widodo pada Pelepasan Kontainer Ekspor ke-250.000 Mayora Group di Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu, mengatakan, potensi industri makanan dan minuman di Indonesia bisa menjadi champion, karena supply dan user-nya banyak.
Untuk itu, salah satu kunci daya saingnya di sektor ini adalah food innovation and security. 
Kementerian Perindustrian mencatat, sepanjang tahun 2018, industri makanan dan minuman mampu tumbuh sebesar 7,91 persen atau melampaui pertumbuhan ekonomi nasional di angka 5,17 persen.
Bahkan, pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang di triwulan IV-2018 naik sebesar 3,90 persen (y-on-y) terhadap triwulan IV-2017, salah satunya disebabkan oleh meningkatnya produksi industri minuman yang mencapai 23,44 persen.
Selanjutnya, industri makanan menjadi salah satu sektor yang menopang peningkatkan nilai investasi nasional, yang pada tahun 2018 menyumbang hingga Rp56,60 triliun.
Realisasi total nilai investasi di sektor industri manufaktur sepanjang tahun lalu mencapai Rp222,3 triliun.
“Di tahun 2018, tenaga kerja di sektor industri manufaktur mencapai 18,25 juta orang atau naik 17,4 persen dibanding tahun 2015. Industri makanan menjadi kontributor terbesar hingga 26,67 persen,” tuturnya.
Menperin menambahkan, produk makanan dan minuman Indonesia telah dikenal memiliki daya saing di kancah global melalui keragaman jenisnya. Ini ditandai dengan capaian nilai ekspornya sebesar USD29,91 miliar pada tahun 2018.
“Industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi paling besar terhadap nilai ekspor nasional,” ujarnya.
Pada 2017, tercatat ekspor produk manufaktur nasional di angka USD125,1 miliar, melonjak hingga USD130 miliar di tahun 2018 atau naik sebesar 3,98 persen.
“Jadi, tahun lalu kontribusinya tertinggi mencapai 72,25 persen,” imbuhnya.
Menperin optimistis, industri makanan dan minuman nasional mampu melakukan terobosan inovasi produk. Upaya ini guna memenuhi selera konsumen dalam dan luar negeri.
Terlebih lagi adanya implementasi industri 4.0, dengan pemanfaatan teknologi terkini dinilai dapat menghasilkan produk yang berkualitas dan kompetitif.
“Untuk itu, kami memberikan apresiasi kepada PT Mayora Indah Tbk yang telah menjadi salah satu perusahaan percontohan di Indonesia dalam penerapan industri 4.0 di sektor industri makanan dan minuman,” ungkapnya.
Airlangga pun mengaku bangga atas capaian Mayora yang telah mengekspor sebanyak 250 ribu kontainer produknya ke lebih dari 100 negara. Tujuannya antara lain Asean, China, India, Timur Tengah, Amerika Serikat, Afrika, Uni Eropa, hingga Irak dan Palestina.
Adapun pasar ekspornya saat ini menyumbang sebesar 50 persen terhadap total penjualan perseroan yang mencapai lebih dari Rp35 triliun. Beberapa produk unggulannya yakni, permen Kopiko yang menjadi nomor satu di dunia. Selanjutnya, produk kopi instan Torabika, menjadi nomor satu di pasar Filipina, Rusia, dan Lebanon.
Selain itu, produk butter cookies Danisa menjadi nomor satu di China dan Vietnam, produk minuman sereal Energen menempati peringkat satu di Filipina, serta wafer cokelat Beng Beng dan krekers Malkist menjadi nomor satu di Thailand.
Saat ini, Mayora telah memiliki sebanyak 29 pabrik, 24 di antaranya tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan lima pabrik berada di luar negeri. Perusahaan menyerap tenaga kerja sebanyak 51 ribu orang, dengan lebih dari 20 karyawan asal Indonesia bekerja di pabrik luar negeri. Melalui proses produksinya, Mayora juga memberdayakan hingga 70 ribu petani kopi, singkong, dan jagung.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Arsitek Delution, hadir di acara IndoBuildTech Jakarta The 2nd Phase di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (21/8).(Andi Mardana)

Rabu, 21 Agustus 2019 - 15:36 WIB

Jakarta Architecture Installation Festival 2019 Hadir di JCC

Sebuah pameran mahakarya instalasi arsitek terkemuka di Hall A Jakarta Convention Center (JCC).

BNI Syariah di Islamic Tourism

Rabu, 21 Agustus 2019 - 15:36 WIB

BNI Syariah Gelar Acara Islamic Tourism Expo 2019

Jakarta - BNI Syariah menebar promo umroh murah dan beragam program menarik pada perhelatan Islamic Tourism Expo 2019. Pameran Umroh Haji & Wisata Halal terbesar dan terlengkap ini diselenggarakan…

Arena permainan olahraga di booth ISEF 2019 (Anto: Industry.co.id)

Rabu, 21 Agustus 2019 - 15:10 WIB

ISEF 2019, Gelar Lomba Berhadiah Rp50 Juta

Jakarta - Secara khusus, Dinas-dinas Pemuda dan Olahraga-Kemenpora dari berbagai wilayah di Indonesia berpartisipasi di ISEF sebagai representasi spirit dan komitmen peningkatan prestasi olahraga,…

Suasana di salah satu booth ISEF 2019

Rabu, 21 Agustus 2019 - 15:03 WIB

ISEF 2019 Resmi Digelar Pamerkan Produk dan Infrastruktur Olahraga

Jakarta - Indonesia Sport Expo and Forum (ISEF), untuk keempat kalinya, satu-satunya event yang didedikasikan khusus sebagai sports Business platform di Indonesia, digelar di Jakarta Convention…

Gading Marten (Foto Dok Industry.co.id)

Rabu, 21 Agustus 2019 - 15:00 WIB

Gading Marten Ringan Bebannya karena Mendapat Pujian dari Mutiara Sani

Kesuksesan Deddy Mizwar memainkan tokoh Naga Bonar membuat Gading Marten mengaku minder untuk menerima peran cerita fiktif karya Asril Sani itu. Apalagi sang empunya cerita masih hidup.