INDUSTRY.co.id - Jakarta-Perekonomian Indonesia akan terus ditopang oleh permintaan domestik. Pertumbuhan konsumsi terus stabil di sekitaran 5 persen, dan akan terus menjadi penopang utama perekonomian Indonesia.
Ekonom DBS Group Research, Gundy Cahyadi mengatakan, pertumbuhan konsumsi akan menjadi lebih kuat seandainya didorong oleh pemulihan yang lebih signifikan dari konsumsi discretionary goods.
"Kunci utama pertumbuhan ekonomi tahun ini sebenarnya terletak di investasi. Pertumbuhan di sektor manufaktur yang masih mengecewakan menjadi halangan utama untuk potensi investasi tahun ini," ungkap Gundy Cahyadi saat acara DBS market outlook di The Hermitage Hotel Jakarta (28/2/2017).
Pelemahan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 3-4 tahun terakhir menjadi faktor utama melemahnya investasi di Indonesia.
"Dilihat dari tahun 2012, kontribusi investasi Indonesia turun sangat signifikan, karena waktu itu pertumbuhan ekonomi digoyang harga komoditas yang turun," terangnya.
Sektor manufaktur diharapkan membantu pertumbuhan ekonomi, namun kenyataannya belum ada kontribusi meningkat. Ini tercermin dari data investasi dua tahun terakhir demand dari mesin-mesin masih turun. Dan kenyataannya sektor manufaktur masih lemah, belum ada produksi lagi dari pabrik-pabrik di Indonesia.
"Kami melihat tanda-tanda yang cukup positif dari beberapa data belakangan ini. Data Investasi Asing Langsung (FDI) menunjukan bahwa adanya FDI ke sektor manufaktur menyentuh rekor tertinggi di tahun 2016, " terangnya.
Membaiknya pertumbuhan ekspor juga merupakan satu hal yang positif. Kontribusi dari net ekspor untuk GDP growth diperkirakan akan naik tahun ini.
"Kita lihat dari pertumbuhan ekspor 3-4 tahun terakhir setiap bulan naiknya sedikit sekali kebanyakan negatif. Akhir 2016 angka ini naik ke positif, pertumbuhan ekspor membantu menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia," tutup Gundy.