Tekan Impor, BPH Migas Kejar Pembangunan 100 Ribu Jargas Rumah Tangga

Oleh : Ahmad Fadli | Selasa, 05 Maret 2019 - 21:42 WIB

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi atau BPH Migas mencatat realisasi pembangunan jaringan gas atau Jargas telah mencapai 325.773 sambungan rumah tangga (SR) hingga akhir 2018.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi atau BPH Migas mencatat realisasi pembangunan jaringan gas atau Jargas telah mencapai 325.773 sambungan rumah tangga (SR) hingga akhir 2018.

INDUSTRY.co.id, Jakarta - Pemerintah tengah mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan gas (Jargas) agar ketersediaan energi dapat diakses oleh masyarakat kecil secara langsung sekaligus mendukung program diversifikasi energi dalam rangka mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak dan LPG 3Kg.

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi atau BPH Migas mencatat realisasi pembangunan jaringan gas atau Jargas telah mencapai 325.773 sambungan rumah tangga (SR) hingga akhir 2018. Hal ini sejalan dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) untuk membangun jaringan gas 4,7 juta SR pada tahun 2025.

Anggota Komite BPH Migas, Jugi Prajogio mengatakan, pada tahun ini ditargetkan sekitar 80 ribu hingga 100 ribu SR terbangun. Target ini dengan asumsi anggaran yang dialokasikan mencapai Rp1 triliun.

"Jadi 325 ribu plus seratus. 425 ribu-an. Setahun itu sekarang negara punya kemampuan hampir Rp1 T dengan jumlah sambungan sekitar 100 ribu-an maksimum," ujar Jugi di kantornya Jakarta, Selasa 5 Maret 2019.

Sementara itu, terkait dengan harga Jargas ke depan, pihaknya mengatakan akan ada sekitar 22 Kabupaten/Kota lagi yang akan ditetapkan. Hal ini merupakan kelanjutan dari penetapan harga Jargas pada hari ini di sebanyak 7 Kabupaten/Kota dan sebelumnya di sebanyak 45 Kabupaten/Kota.

"(22 Kabupaten/Kota) Itu kan sedang dibangun, biasanya mereka begitu sudah selesai, diserahterimakan kepada PGN, PGN ajukan kepada kita. Jadi mungkin mendekati akhir tahun (ditetapkan), kita hitung semua," jelasnya.

Ia mengatakan, penetapan harga ini dilakukan agar ada keseimbangan antara badan usaha dan pengguna. Ia berharap badan usaha bisa lebih semangat membangun Jargas sebab sebelumnya, badan usaha kerap merugi lantaran harga jual gas melalui pipa itu terlalu rendah.

"Jadi kita ingin, pertama memberikan harga yang dipastikan dapat diterima masyarakat. Kedua kita juga ingin Badan Usaha yang menerima penugasan pemerintah dapat bekerja dengan baik, dan ketiga juga ingin laju impor elpiji kita tahan," ucapnya.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia

Kamis, 22 Agustus 2019 - 13:45 WIB

Lindungi Industri Tekstil Nasional, API Segera Ajukan Safeguard

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat akan mengajukan tarif safeguard untuk produk tekstil impor sebesar 2,5%-18%. Pengajuan ini untuk melindungi produk tekstil dalam negeri…

Para finalis Miss Grand Indonesia dari 34 wilayah di Indonesia mengikuti pembekalan materi oleh Bupati Kabupaten Bogor di RM Bumi Aki Cibinong, Rabu (21/8).(Ist)

Kamis, 22 Agustus 2019 - 13:27 WIB

Miss Grand Indonesia 2019 Dukung Program Pariwisata Kabupaten Bogor

Selain pembekalan materi seputar wanita dan karier dari Bupati Bogor, para finalis juga dibekali materi kepribadian yang di sampaikan oleh Ahmad Zulfikar Priyatna. S.E.

Agus Mulyana, Direktur Kepatuhan Bank bjb saat menerima penghargaan

Kamis, 22 Agustus 2019 - 13:14 WIB

Bank bjb Raih Penghargaan TOP GRC 2019

Jakarta – Pengelolaan risiko yang baik menjadi salah satu kiat kunci yang harus dipraktikkan dalam setiap usaha bisnis. Peran manajemen risiko yang lebih banyak berada di balik layar ini tak…

Direktur Utama Bank Muamalat Achmad K Permana dan Blibli.com jalin kerjasama

Kamis, 22 Agustus 2019 - 13:05 WIB

Bank Muamalat Tebar Hadiah di Muka Bagi Penabung

Jakarta - Bank Muamalat memberikan program hadiah bagi penabung baik yang lama dan yang baru. Uniknya hadiah diberikan diawal saat akan menabung, ini hal yang berbeda dan sangat menarik bagi…

Marmer Batu Aalam

Kamis, 22 Agustus 2019 - 13:03 WIB

Penjualan Produk Marmer Turun Dampak Lesunya Sektor Properti

Penjualan produk marmer dan batu alam di dalam negeri mengalami penurunan di tahun ini. Penurunan tersebut merupakan imbas dari lesunya sektor properti.