INDUSTRY.co.id -

Jakarta - Pergerakan bursa saham Asia kembali mengalami pelemahan yang cukup dalam. Langkah-langkah di Tiongkok seiring dengan persyaratan cadangan baru bagi pemberi pinjaman mulai diberlakukan menjadi salah satu sentimen yang cukup menekan bursa saham Asia, terutama Tiongkok.

"Bank sentral Tiongkok diperkirakan akan menyuntikkan CNY750 miliar (sekitar US$108,4 miliar) ke dalam sistem perbankan," ujar analis Pasar Modal Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (16/10/1/2018).

Adanya pemberlakuan kebijakan di Tiongkok tersebut memberikan sentimen negatif pada sejumlah saham-saham perbankan, tidak hanya di Tiongkok namun, juga di sejumlah bursa saham Asia lainnya. Selain itu, berita kematian salah satu reporter Arab Saudi yang akhirnya membuat Presiden Trump memberikan ancamannya ke Arab Saudi turut membuat pelaku pasar khawatir akan memanasnya konflik di Timur Tengah.

Menurutnya, berbeda dengan kondisi bursa saham Asia yang melemah, laju bursa saham Eropa cenderung bergerak menguat di awal pekan seiring sentimen akan harapan positif terhadap tercapainya kesepakatan Brexit. Indeks pan-European Stoxx600 naik 0,6 persen dengan kenaikan sejumlah saham. Pelaku pasar kembali mencoba mengesampingkan kekhawatiran akan perang dagang antara AS dan Tiongkok seiring dengan rilis penurunan sejumlah data di keduanya. Dengan adanya rilis data-data tersebut pelaku pasar berharap akan adanya titik temu untuk mengurangi ketegangan tersebut. namun demikian, pelaku pasar juga mencermati ketegangan antara Arab Saudi dan AS seiring munculnya berita terbunuhnya wartawan Arab Saudi.

Selain itu, ia bilang, pelemahan saham-saham teknologi menyeret sejumlah saham-saham lainnya ke zona merah. Aksi jual pada saham-saham teknologi terjadi setelah saham Netflix dan Apple mendapat penurunan rekomendasi dari Goldman Sachs seiring perkiraan penurunan permintaan dari Tiongkok. Pelaku pasar pun memanfaatkan kenaikan sebelumnya untuk melakukan aksi ambil untung terhadap sejumlah saham lainnya.

"Tidak hanya itu, kembali meningkatnya imbal hasil obligasi AS turut membuat pasar saham AS melemah," katanya.