INDUSTRY.co.id - Jakarta - Di perkirakan Rupiah akan bergerak di kisaran 15.188-15.215. Pergerakan USD yang masih cenderung melemah di pasar valas Asia yang juga diikuti dengan penurunan imbal hasil obligasi AS diharapkan dapat mengurangi tekanan pada Rupiah yang sedang mencoba berbalik naik.

Analis Pasar Modal Reza Priyambada menyatakan, masih adanya sejumlah sentimen positif terutama dari penilaian lembaga asing dan sejumlah negara terhadap kemampuan Indonesia menghadapi krisis perang dagang yang disampaikan dalam Annual Meeting IMF-WB juga diharapkan dapat memperkuat laju Rupiah.

"Tetap mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat Rupiah kembali melemah," katanya di Jakarta, Senin (15/10/2018).

Ia katakan, pergerakan Rupiah di akhir pekan mampu menyamai pergerakan IHSG yang berada di zona positifnya. Adanya komentar kontra dari Presiden Trump terhadap kebijakan The Fed untuk menaikan suku bunganya ditanggapi positif dimana dinilai dapat menahan potensi kenaikan suku bunga The Fed lebih lanjut. Di sisi lain, pergerakan USD cenderung melemah di pasar valas Asia setelah pelaku pasar merespon rilis kenaikan di bawah ekspektasi dari indeks harga konsumen.

"Dengan rilis tersebut juga dinilai dapat mengurangi potensi kenaikan suku bunga The Fed. Pejabat Fed mengatakan bulan lalu mereka memperkirakan tiga kenaikan suku bunga pada 2019, dan beberapa mengatakan mereka terbuka untuk kenaikan suku bunga pada Desember, yang akan menjadi yang keempat tahun ini," katanya.