INDUSTRY.co.id - Jakarta- PT. Bank Mandiri Persero Tbk mencatat penurunan laba bersih hingga 32,1 persen (year on year/Yoy) menjadi Rp13,8 triliun tahun 2016 dari perolehan 2015 yang sebesar Rp20,3 triliun.

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo kepada awak media di Jakarta, Selasa (14/2/2017) mengatakan anjloknya perolehan laba bersih sepanjang 2016 karena bank harus menyisihkan pendapatan operasional untuk biaya pencadangan setelah meningkatnya rasio kredit bermasalah.

Biaya pencadangan (coverage ratio) Mandiri atas rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) mencapai 125 persen karena NPL Mandiri mencapai 4 persen secara gross atau naik 1,4 persen dibanding 2015 yang sebesar 2,6 persen.

"Banyak pendapatan yang akhirnya kita masukkan ke biaya pencadangan. Jika sebelum masuk ke biaya pencadangan, pendapatan operasional (Pre Provision Operasional Profit/PPOP) kita sebesar Rp43,3 triliun," ujar dia.

Dengan kenaikan NPL hingga 4 persen itu pula, Mandiri menyisihkan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sebesar Rp24,6 triliun.

Tiko, sapaan akrab Kartika, mengklaim sepanjang 2016 sebenarnya kinerja Mandiri mencatatkan pertumbuhan yang positif. Namun perseroan harus menyisihkan pendapatan untuk memitigasi potensi kenaikan NPL.

Sepanjang 2016, Mandiri menyalurkan kredit sebesar Rp662 triliun atau tumbuh 11,2 persen. Portofolio kredit tesebut, antara lain, pertumbuhan kredit mikro sebesar 19,1 persen menjadi Rp50,7 triliun, kredit konsumer tumbuh 17 persen menjadi Rp84 triliun, dan kredit korporasi yang melonjak menjadi Rp230,3 triliun dari Rp31,5 triliun.

Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) Mandiri terkumpul Rp762,5 triliun atau tumbuh 12,7 persen.

Dengan capaian penyaluran kredit dan DPK tersebut, aset Bank Mandiri akhir 2016 terkumpul Rp1038,7 triliun.

Adapun rasio kecukupan modal inti (Capital Adequacy Ratio/CAR) Mandiri pada akhir 2016 sebesar 21,3 persen. Sedangkan fungsi intermediasi Mandiri terlihat longgar dari indikator rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) yang sebesar 86,5 persen.