Sekitar 70 Persen Bahan Baku Mamin Masih Impor

Oleh : Kormen Barus | Kamis, 04 Oktober 2018 - 05:00 WIB

Adhi Lukman, Ketum Gammki (Foto Kormen)
Adhi Lukman, Ketum Gammki (Foto Kormen)

INDUSTRY.co.id - Jakarta-Mayoritas bahan pangan industri makanan dan minuman Indonesia (Mamin) masih bersandar pada impor.

“Sekitar 70 persen bahan baku untuk produksi makanan dan minuman harus didatangkan dari negara lain,”ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman, saat pembukaan Pameran  Asean Food and Beverage yang digelar di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta,  Rabu (3/10/2018).

Menurutnya,  produk makanan minuman yang berbahan baku impor terkena dampak dari pelemahan rupiah. Namun pengusaha menegaskan tidak akan menaikkan harga dalam waktu dekat. Kebanyakan kalau perusahaan besar atas permintaan pemerintah, kita sementara tidak naik harga dulu.

Pemerintah  sendiri berharap bisa menurunkan tingkat impor dalam industri bahan baku mamin hingga 10 persen dalam lima tahun mendatang.

Adhi menambahkan, perkembangan teknologi pengolahan juga masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Selama ini, produk-produk yang diekstrak dari ikan asal Indonesia justru diolah di luar negeri.

Menurutnya, saat terjadi gejolak rupiah seperti sekarang, maka akan berpengaruh terhadap biaya produksi. Akan berpengaruh terhadap harga pokok sekitar 3 sampai 5 persen tergantung dari formula masing-masing perusahaan.

Dengan gejolak nilai tukar rupiah yang sudah menembus Rp 15.000, kata Adhi, pengusaha lebih memilih untuk memangkas margin keuntungan. Cara ini setidaknya dilakukan hingga akhir tahun 2018 sambil melihat pergerakan nilai tukar rupiah. Cuma yang menjadi tantangan adalah profit dari perusahaan pasti menurun.

 

Jadi berbeda dengan perusahaan besar, unit usaha makanan minuman level menengah ke bawah seperti UMKM justru lebih memilih untuk menaikkan harga produk. Alasannya sederhana, modal mereka terbatas dan tidak mau usahanya rugi besar.

Hal yang sama juga terjadi pada rumput laut. Indonesia dikenal sebagai penghasil rumput laut terbesar. Namun, ketika sudah dikeringkan, komoditas tersebut diekspor ke Cina untuk diolah yang kemudian diimpor lagi dalam bentuk karagenan dengan harga lebih mahal. "Kalau di sini bisa dikembangkan, akan lebih menguntungkan," kata Adhi.

Adhi S Lukman menjelaskan, industri ekstraksi di Indonesia memang sudah mulai tumbuh. Dari hanya satu dan dua perusahaan, kini sudah tujuh perusahaan yang ekstraksi dari bahan pertanian bahkan limbah, termasuk kulit manggis dan kunyit.

Adhi menyebutkan, minyak cengkeh menjadi komoditas yang patut diperhatikan. Sebab, 50 persen supplai dunia berasal dari Indonesia yang digunakan untuk berbagai produk. "Termasuk minuman bersoda dan masih banyak lagi," ujarnya.

Saat ini, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, sebanyak 70 persen komoditas dalam industri tersebut diimpor dan bisa menjadi setidaknya 60 persen hingga tahun 2023.

Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan Kemenperin Enny Ratnaningtyas mengatakan, rencana penurunan tingkat impor sudah mulai dijalankan oleh industri kecil. Secara perlahan, mereka mulai memaksimalkan potensi komoditas dalam negeri, yakni rempah-rempah.

Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, industri kecil juga mengolah rempah guna dikirimkan ke luar negeri seperti gula semut. "Produk ini sudah mulai ekspor ke Eropa dan beberapa negara. Kami juga sempat membawa pameran ke luar negeri dan banyak peminatnya," ujar Enny.

Menurut Enny, rempah-rempah menjadi komoditas yang memiliki potensi terbesar untuk diekspor. Sebab, Indonesia memiliki kekayaan rempah yang tinggi dibanding dengan negara lain. Pekerjaan terbesar sekarang adalah meningkatkan mutu dan mencoba menyesuaikan kebutuhan dengan industri.

Prof. Dr. Ir. Nuri Andarwulan, MSi, Director of the South East Asian Food and Agricultural Science and Technology – SEAFAST Center, IPB, mengaku sangat mendukung Fi Asia. Sebab acara ini kata dia, lebih dari sekadar pameran perdagangan. Acara ini memberikan peluang yang besar dan memberikan nilai tambah baik bagi peserta pameran dan pengunjung yang tentunya akan menguntungkan industri.

“Saat ini, kami menyadari bahwa makanan terus diproduksi secara komersil dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan konsumen modern yang menginginkan produk yang lebih baik, aman, bergizi, lezat, dan mudah. Industri bahan makanan tak hanya menjadi semakin mapan, tetapi juga semakin berkembang untuk memenuhi kebutuhan industri yang terus maju serta memenuhi permintaan konsumen yang terus berubah,” ujarnya.

Rungphech Chitanuwat menambahkan,  pihaknya berkomitmen untuk menumbuhkan industri makanan dan minuman di ASEAN dengan menghadirkan bahan baku makanan dan teknologi terbaru yang dapat membantu para pelaku industri mengembangkan produknya.

“Program edukasi kami akan memberikan kesempatan kepada para peserta untuk lebih memahami perkembangan industri terkini terkait dengan produk, pasar, dan tren konsumen agar tetap memiliki daya saing,”ujarnya.

Fi Asia 2018 menyediakan program Innovation Tour, Innovation Zone, Discovery Tour, Supplier Finder Desk dan Business Matching yang dapat membantu peserta dan pengunjung  memenuhi kebutuhan mereka dalam mengembangkan bisnis. Inovasi dan teknologi yang akan ditampilkan oleh peserta mencakup bahan baku untuk kesehatan, bahan baku alami, bahan baku makanan, proses makanan, teknologi keamanan, dan layanan pendukung lainnya. Peserta pameran terkemuka lainnya juga akan membawa berbagai macam produk seperti produk roti, minuman, makanan olahan susu, produk susu, makanan siap saji, makanan vegetarian, suplemen makanan dan es krim, produk sereal, pewarna, perisa, pengemulsi, pemanis, vitamin, dan masih banyak lagi.

Indonesia secara resmi telah menjadi tuan rumah Fi Asia sejak tahun 2010 dan mendapatkan dukungan penuh dari Gabungan Pengusaha Makanan & Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) dan Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center LPPM-IPB.(KormenBarus)

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Danone-AQUA raih Penghargaan Industri Hijau

Senin, 16 Desember 2019 - 16:41 WIB

15 Pabrik Danone-AQUA Raih Penghargaan Hijau 2019 dari Kemenperin

Danone-AQUA mendapatkan Penghargaan Industri Hijau 2019 melalui 15 pabriknya dari Kementerian Perindustrian Republik Indonesia atas upaya Danone-AQUA yang secara aktif dan bijak menggunakan…

Fadel Muhammad berbincang dengan Direktur Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muhammad Maulana.

Senin, 16 Desember 2019 - 16:24 WIB

Crowdfunding Bisa Danai UKM di Pasar Modal

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong perusahaan untuk go publik. Kelebihannya, perusahaan yang sudah jadi emiten sebutan yang sudah listing di pasar modal, akan diawasi banyak orang.

Kolaborasi EXSPORT x Shane Tortilla Bag

Senin, 16 Desember 2019 - 15:43 WIB

Exsport Ajak Remaja Perempuan Untuk Jadi Diri Sendiri Lewat Kolaborasi Exsport X Shane Tortilla

EXSPORT x Shane Tortilla Bag menggambarkan ekspresi remaja wanita saat ini dengan desain yang colorful dalam tas jenis sling bag dan totebag.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto (Foto: Ridwan/Industry.co.id)

Senin, 16 Desember 2019 - 14:30 WIB

Asaki Desak Pemerintah Terapkan Safeguard dan Pembatasan Kouta Impor Keramik Asal India dan Vietnam

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto mengatakan, saat ini impor produk keramik dari India dan Vietnam angkanya sudah sangat mengkhawatirkan.

Sekjen Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono saat memberikan penghargaan industri hijau (Foto: Ridwan/Industry.co.id)

Senin, 16 Desember 2019 - 13:02 WIB

Penerapan Industri Hijau Mampu Hemat Energi Sebesar Rp 3,49 Triliun

Berdasarkan data self asessment industri tahun 2018, dapat dihitung penghematan energi sebesar Rp 3,49 triliun dan penghematan air sebesar Rp 228,9 miliar.