INDUSTRY.co.id, Jakarta - Dalam beberapa hari terakhir ini, nilai tukar rupiah terus tergerus hingga ke level Rp 14.500-Rp 14.600 per dolar Amerika Serikat. Sebab itu, pengamat ekonomi Faisal Basri mengusulkan menerbitkan kebijakan ofensif seperti melarang menteri-menterinya untuk berternak dolar Amerika Serikat.
“Bagaimana percaya rupiah kalau menterinya sendiri tak percaya,” ujar Faisal.
Ia mengatakan pemerintahan Presiden Joko Widodo selama ini untuk mengendalikan kurs rupiah dan memperkuat cadangan devisa masih lamban. Tidak ada gebrakan yang ofensif dari pemerintah ditengah kondisi kurs rupiah yang terus melemah.
“Semua defensif, identifikasi 500 komoditi yang akan dilaranglah, diapakanlah, padahal banyak sekali langkah ofensif,"jelas dia
Alih-alih membikin rupiah menguat, kebijakan defensif seperti pembatasan impor ini justru berpotensi membuat sejumlah industri menjadi kelabakan. Faisal Basri mencontohkan industri yang bergerak pada sektor barang kondumsi yang hanya berkontribusi sekitar 9,5 persen dari total impor.
"Jadi, jangan ajarin industri untuk pakai bahan baku apa," kata Faisal Basri memberi saran kepada pemerintahan Jokowi.