INDUSTRY.co.id - Jakarta-Sejarah olahraga dirgantara tercatat di Asian Games XVIII 2018 Jakarta dan Palembang. Untuk pertama kalinya olahraga udara, yang diwakili Paralayang, dilombakan. Prestasi dunia para pilot (sebutan bagi atlit olahraga dirgantara) Indonesia dan pendekatan PB FASI (Pengurus Besar Federasi Aero Sport Indonesia) ke KOI (Komite Olimpiade Indonesia), Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga) serta OCA (Komite Olimpiade Asia) lewat FAI (Federasi Aeronautika Internasional), induk olahraga dirgantara dunia, berbuah manis. Terbuka lebar kesempatan tuanrumah Indonesia, menambah perolehan medali emas dari cabang olahraga yang berkembang di Indonesia pertengahan era ‘80an. Para penggiat olahraga dirgantara di Indonesia, sangat berharap diraihnya medali emas perdana di ajang Asian Games.
Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi kepada Tagor Siagian, Humas PASI dalam sebuah kesempatan berharap lebih dari 2 medali emas bisa direbut para pilot Indonesia, mengingat pencapaian di Seri PGAWC 2017. Pada Seri Piala Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang (Para Gliding Accuracy World Cup) 2017, Indonesia memborong gelar Juara Dunia semua kelas; Putri, Umum dan Beregu. Kelas Umum adalah peringkat keseluruhan pilot Putri dan Putra. Sementara dalam pengajuan anggaran persiapan Asian Games 2018 oleh PGPI (Persatuan Gantolle dan Paralayang) Bidang Paralayang sebsar Rp. 34,6 Milyar, yang akhirnya disetujui Kemenpora Januari lalu sebesar Rp. 12,3 Milyar, sasaran yang dipatok PGPI Bidang Paralayang melalui Ketuanya, Djoko Bisowarno, adalah 1 medali emas. Menurut Gendon Subandono, Pelatih Kepala Pelatnas Paralayang, perolehan 2 medali emas di nomor Ketepatan Mendarat Beregu Putri dan Putra adalah realistis. “Persiapan kita fokus ke nomor Ketepatan Mendarat,” ujarnya.Indonesia sempat disegani para pilot dunia di nomor Ketepatan Mendarat/KTM Kelas Putri, setelah berturutan meraih gelar Juara Dunia Seri PGAWC pada 2010 hingga 2014, atas nama Ifa Kurniawati (2010), Milawati Sirin (2011) dan Lis Andriana (2012-2014). Tradisi tersebut diteruskan Rika Wijayanti, 23 tahun, asal Batu, Malang, Jawa Timur dengan menjadi Juara Dunia Seri PGAWC 2017.
Berkat topografi alamnya yang sangat menantang dan indah, Indonesia diakui para atlit olahraga dirgantara dunia, sebagai surga olahraga udara dan wajib “ditaklukkan” mereka. Daya tarik alam yang didukung kekayaan budaya, kuliner serta sejarah membuat FAI sering mempercayakan Indonesia menggelar berbagai kejuaraan olahraga dirgantara tingkat dunia. Namun yang paling mencuat di ajang multievent adalah cabor Paralayang.
Sejak Pekan Olahraga Pantai Asia (Asian Beach Games) pertama di Bali 2008 dan SEA Games 2011 di Puncak, Jawa Barat, maupun ajang resmi FAI seperti; Pra Piala Dunia (PWC) Lintas Alam di Batu Dua, Sumedang, Jawa Barat 2013 dan PWC Palu 2017, Kejuaraan Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang Antar Negara (WPAC/World Paragliding Accuracy Championship) 2015 di Puncak, Jawa Barat, Piala Asia Lintas Alam II 2017 di Puncak dan ajang tahunan Seri PGAWC di Puncak, Painan (Sumatera Barat), Bali, Lombok, Manado (Sulawesi Utara) dan Batu, Malang (Jawa Timur).
Digelarnya cabor Paralayang di Asian Games XVIII 2018 juga merupakan kesempatan amat baik mengenalkan wisata olahraga udara di Indonesia. Kala menyambut Kejuaraan Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang Antar Negara (WPAC/World Paragliding Accuracy Championship) 2015 di Gunung Mas, Puncak, Jawa Barat, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, mengingatkan, ”Tidak cukup kita menjunjung tanah dan air, jangan lupa udara. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, potensi wisata olahraga udara sangat besar. Kalau turis mancanegara mau jauh-jauh ke sini hanya untuk selancar, menyelam, snorkling, jet ski dan berlayar, kenapa tidak untuk Paralayang dan olahraga udara lainnya?!” Karenanya, Menteri Nahrawi meminta kalangan BUMN peduli dan ikut mengembangkan potensi menjanjikan itu.