INDUSTRY.co.id - Jakarta, Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS mengalami tren pelemahan sepanjang tahun 2018 ini. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap, otoritas moneter dan fiskal bisa membuat kurs yang stabil, agar pengusaha dapat membuat perencanaan bisnis yang baik.
"Secara keseluruhan pengusaha tentu inginnya kestabilan karena kalau fluktuasinya besar, kita susah melakukan perencanaan," kata Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P. Roeslani di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Kendati demikian, Rosan mengatakan saat ini kalangan pengusaha telah memperkirakan kondisi pelemahan nilai tukar rupiah karena dinamika kondisi global.
Ia menambahkan pengusaha telah menyiapkan tiga langkah antisipasi untuk menghadapi gejolak nilai tukar rupiah. Yakni menurunkan margin keuntungan, membebankan kenaikan biaya kepada konsumen sehingga harga produk menjadi naik, atau justru melakukan efisiensi di berbagai aspek.
"Kalau tahu bakal tinggi kita tahu apa yang harus kita lakukan, menurunkan margin, melakukan efisiensi atau membebankan ke konsumen," katanya.
Rosan mengaku dunia usaha telah memperkirakan tren pelemahan rupiah dan telah memasukkan hal tersebut dalam perencanaan bisnis tahun ini dan tahun depan.
Namun, ia memastikan antisipasi hanya akan dilakukan oleh sektor-sektor usaha yang terdampak langsung pelemahan rupiah. Terutama bidang usaha yang masih didominasi bahan baku impor.
Sebaliknya, sektor-sektor yang mayoritas mengekspor produknya justru akan menikmati momentum pelemahan rupiah seperti batubara.
"Sebetulnya kita dari pengusaha sudah tahu, sudah memperkirakan akan ada kenaikan suku bunga yang mengakibatkan biaya kita naik. Jadi sebenarnya dalam perencanaan kita tahun ini maupun tahun depan kita sudah masukkan hal itu," katanya.