INDUSTRY.co.id - Lombok Tengah- Kementerian Pertanian bersama dengan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) memberikan pendampingan kepada para petani di Pulau Lombok agar mampu meningkatkan produktivitas padi dari rata-rata lima ton menjadi 7,5 ton per hektare.
"Selama ini pendampingan sudah berjalan, tapi produktivitas masih rendah 4-5 ton per hektare, kami ingin 7-7,5 ton/ha," kata Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Sumardjo Gatot Irianto, usai panen onfarm mandiri petani Bulog Divisi Regional NTB Gapoktan Bismillah binaan Kementan, di Desa Gerunung, Lombok Tengah, Sabtu (28/8/2018)
Untuk mendapatkan pendampingan, kata dia, petani harus bersedia menjual sebagian hasil produksinya ke Bulog. Sebab, beras tersebut akan kembali lagi ke masyarakat dalam bentuk beras sejahtera (rastra) yang diberikan secara gratis kepada warga kurang mampu.
"Harus ada perjanjian tertulis, dan kami minta kontrak di atas meterai, kalau perlu jempol darah," ujar Gatot menegaskan kepada petani di lokasi panen.
Selama ini, menurut dia, sebagian besar petani menjual hasil produksinya ke pengusaha besar. Namun Bulog nyatanya masih bisa mendapatkan barang dari petani.
Meskipun demikian, pihaknya ingin agar Bulog lebih banyak lagi mendapatkan pasokan dari petani dengan kualitas yang lebih bagus.
"Tadi ada petani minta beras kuning ditoleransi. Kami bilang tidak bisa, nanti Bulog yang digantung. Tapi kami berikan solusi akan membantu mesin pengering," kata Gatot yang menjanjikan mesin pengering gabah kepada salah seorang mitra Bulog.
Sementara itu, Direktur Pengadaan Bulog Bachtiar, mengakui perjanjian pembelian gabah/beras dari petani yang menerima bantuan pemerintah sudah dilakukan sejak lama. Namun perlu lebih ditingkatkan lagi agar volume serapan, khususnya untuk cadangan beras pemerintah lebih banyak.
"Petani yang diberikan bantuan harus menjual sebagian hasil produksinya ke Bulog. Kami tidak perlu minta banyak-banyak, dari hasil panennya 20 persen saja dijual ke Bulog," katanya.
Ia menyebutkan target cadangan beras pemerintah sebanyak 4 juta ton pada 2018. Namun yang sudah tercapai sebanyak 1,5 juta ton pada semester pertama.
Untuk itu, Bachtiar berharap target pengadaan bisa terwujud melalui upaya peningkatan produktivitas padi dari rata-rata 5 ton menjadi 7,5 ton/ha melalui intensifikasi lahan di seluruh sentra produksi, termasuk di Pulau Lombok.
"Proses pengadaan terus berjalan. Mulai Juli, Agustus-September, harapan kita masih panen," kata Bachtiar sambil menegaskan bahwa stok beras yang ada di Bulog cukup untuk ketahanan hingga lima bulan ke depan. (Ant)