INDUSTRY.co.id - Jakarta, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendesak pemerintah untuk membenahi industri hulu nasional. Hal ini ditenggarai oleh semakin tingginya impor bahan baku industri olahan dalam negeri yang mencapai 70 persen.
"Impor bahan baku kita terus meningkat, kita sebagai pengusaha tidak melihat pemerintah mengembangkan industri hulu. Kedepan mau dibawa kemana industri ini?," ungkap Wakil Komite Tetap Kadin Indonesia bidang Industri Hulu dan Petrokimia Achmad Widjaja kepada Industry.co.id di Jakarta, Senin (23/7/2018).
Ditambahkan Achmad, apabila industri hulu sampai hilir tidak bisa berjalan maka industri nasional akan semakin kritis. Apalagi, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian tengah gencar dengan program industri 4.0.
"Saat ini proporsi industri nasional masih belum berkembang, ditambah lagi menguatnya dolar AS atas rupiah, ini akan menjadi masalah besar untuk pengusaha dan industri," terang Achmad.
Menurutnya, sudah 15 tahun sejak reformasi pemerintah belum melakukan pekerjaan rumah (PR)-nya dengan baik terutama bagi perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
"Harusnya industri hulu itu dikerjakan oleh BUMN yang berbasis energi seperti Pertamina, karena mereka punya bahan baku mulai dari hulu ke hilir dari eksplorasi sampai menjadi bensin," ungkap pria yang sering disapa AW.
Lebih lanjut, AW menjelaskan, satelah reformasi hampir 10 sampai 15 tahun lalu, industri nasional banyak beraliansi dengan sumber-sumber crude oil yang bisa membawa dan menopang untuk Indonesia menjadi satu kesatuan dalam memprodusi refinery.
Menurut AW, refenery itu perlu, karena saat ini impor solar luar biasa, sedangkan di Bontang Indonesia Timur kita punya LNG dan di Sumatera kita punya South Sumatera gas alam. Kedua tempat ini tidak di utilisasi sesungguhnya, sehingga apa yang ada berlimpah di Indonesia Timur tidak bisa membaca bahwa itu akan manjadi penopang industri nasional.
"Dalam kondisi seperti ini bagaimana ekonomi kita bisa melejit, harusnya kita bersyukur dengan angka 5,4%," kata AW.
Ia menegaskan, sudah seharusnya pemerintah membuat konsep integrated antara hulu dan hilir agar dapat mengerek pertumbuhan industri dan ekonomi yang lebih tinggi lagi.
"Saya optimis dengan konsep integrated dapat memacu pertumbuhan industri nasional, apalagi pemerintah punyabtiga proyek besar di Masela, Natuna dan Bintan, dan semua kembali ke kebijakan yang disebut keputusan politik dimana industri hulu inilah yang perlu dikemas secepatnya," pungkasnya.