INDUSTRY.co.id, Jakarta - Jones Lang LaSalle (JLL) Research mengklaim, pangsa pasar ritel atau mal di Jakarta di tahun 2017 masih membaik. Meskipun hal tersebut dilakukan moratorium pembangunan ritel oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
“Ritel masih ok, meski dari tiga tahun terakhir dilakukan moratorium di Jakarta terutama ritel okupansi (hunian) masih tinggi, ‘I think’ strategi dari Pemprov sehingga tingkat hunian ritel tinggi dan pertumbuhan sewa masih 5-6 persen per tahun,” ujar Local Director Strategic Consulting PT JLL, Herully Suherman di Jakarta, kemarin
Herully memprediksi, peningkatan pertumbuhan property ada pada kondominium karena dibandingkan dari populasi dari ritel di Jakarta, sektor perumahan masih dibutuhkan diseluruh kelas sehingga dengan sentimen membaik, ekonomi membaik tentu daya beli tetap ada di masyarakat sehingga 2016 di kuartal III dan IV suda ada mulai antusias orang untuk membeli.
“Saya harap di 2017 properti di sektor Kondo lebih dulu yang membaik. Kalau berapa persen belum, saya lihat yang terakhir itu kan 69%, harusnya sih diatas itu,” tutur Herully.
Sementara itu, Kepala Riset JLL James Taylor menambahkan, dengan adanya moratorium di Jakarta, tingkat okupansi (hunian) ritel terbatas dan mempengaruhi harga sewa dari projek ritel di Jakarta.
Namun peningkatan hunian mal kelas menengah atas masih cukup tinggi tercatat di tahun 2016 di kuartal IV hunian mal mencapai 89%.
"Untuk hunian dan harga sewa yang kelas upper tetap tinggi dan naik cukup stabil sekitar 5-6% per tahun,"ungkap Kepala Riset JLL James Taylor.
Jadi tingginya harga sewa mal kata James, hal itu dikarenakan banyaknya pemain kelas middle (menengah) yang masih memiliki rencana untuk melakukan ekspansi bisnis. Sehingga, permintaan terhadap sewa ruang ritel ini masih kuat.
Pada kuartal IV-2016, ungkap James, harga sewa di mal rata-rata Rp489.717 per meter persegi (m2) per bulannya. Sementara itu, service charge sebesar Rp113.960 per m2 per bulannya.James menambahkan, munculnya e-commerce seperti Lazada, Zalora dan JD juga diyakini akan mempengaruhi tingkat okupansi ritel.
"Ini potensi negara kita, di mana populasi begitu banyak. Sehingga e-commerce ini berkembang. Diharapkan tahun-tahun depan sektor ritel e-commerce lebih menarik," tandasnya.