INDUSTRY.co.id - Tanjungpinang- Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau mempersiapkan uang pecahan kecil dan besar senilai Rp3 triliun untuk melayani kebutuhan masyarakat selama Ramadhan dan Idul Fitri 1439 Hijriah.
Kepala Perwakilan BI Kepri Gusti Raizal Eka Putra, di Tanjungpinang, Selasa (22/5/2018 mengatakan nilai uang pecahan yang dibutuhkan masyarakat diperkirakan meningkat pada Idul Fitri 1439 H dibanding tahun sebelumnya.
"Pada Ramadhan dan Idul Fitri 1438 H, uang pecahan yang dipersiapkan BI di Kepri sekitar Rp2,4 triliun, namun tahun ini diperkirakan meningkat karena banyak hari libur dan cuti bersama," ujarnya lagi.
Raizal mengatakan penyediaan uang pecahan selama Ramadhan dan Idul Fitri merupakan tugas rutin yang dilaksanakan setiap tahun. Belajar dari pengalaman tahun sebelumnya, uang pecahan yang dibutuhkan masyarakat lebih banyak dengan nominal besar, dimulai dari Rp20.000 dan Rp50.000.
Karena itu, lanjutnya, 90 persen uang pecahan dengan nomimal besar akan dikeluarkan BI di Kepri.
Uang pecahan senilai Rp3 triliun itu lebih banyak beredar di Batam. Hal itu disebabkan jumlah warga Batam jauh lebih banyak dibanding kabupaten dan kota lainnya.
Peningkatan distribusi uang pecahan tidak hanya dilakukan di Batam, Pulau Bintan, dan Karimun, melainkan juga Lingga, Natuna, dan Kepulauan Anambas. Nilai uang pecahan yang didistribusikan berdasarkan perkiraan kebutuhan.
BI juga bekerja sama dengan pihak perbankan untuk melayani kebutuhan masyarakat terhadap penukaran uang pecahan tersebut. Selain itu, uang pecahan juga dapat ditukar di pelayanan kas keliling BI di sejumlah daerah.
"Kami minta pihak perbankan juga membuat spanduk sosialisasi untuk menukarkan uang resmi agar diketahui masyarakat. Jadi penukaran uang tidak hanya dapat dilakukan di kantor BI Kepri, melainkan di seluruh perbankan," katanya pula.
Raizal juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menukarkan uang di tempat yang tidak resmi. Masyarakat harus menghindari penukaran uang di tempat tidak resmi agar tidak mengalami kerugian.
Kerugian yang dapat diderita masyarakat yakni jumlah uang pecahan yang diterima tidak sesuai dengan uang yang diberikan. Dikhawatirkan pula dalam uang pecahan itu terselip uang palsu.
"Untuk mendapatkan pelayanan yang terbaik, dapat dipertanggungjawabkan, maka memang harus tukar uang di tempat resmi," katanya pula.
Raizal mengatakan masyarakat juga dapat menukarkan uang yang dalam kondisi kurang baik, namun masih utuh kepada pihak perbankan. Uang dapat ditukarkan dalam kondisi dua per tiga masih utuh.
"Kalau uang yang sudah diwarnai, staples, dapat ditukar, tetapi kami tidak keluarkan lagi karena dianggap sudah tidak layak edar," katanya pula.