INDUSTRY.co.id -Jakarta, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mencatat pertumbuhan laba bersih sekitar 25,1% atau menjadi Rp11,34 triliun pada 2016 dari kurun waktu serupa tahun lalu Rp9,07 triliun.
Wakil Direktur Utama BNI Suprajarto menerangkan, kenaikan laba bersih ini ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih dan pendapatan non bunga masing-masing 17,4% atau menjadi Rp29,99 triliun dan 23,1% atau menjadi Rp8,59 triliun.
"Meningkatnya pendapatan bunga bersih membuat BNI mampu menjaga margin bunga bersih atau NIM di level 6,2%, sedangkan pertumbuhan pendapatan non bunga didukung oleh kenaikan fee yang diperoleh dari transaksi trade finance, pengelolaan rekening dan debit card, serta fee yang diperoleh dari bisnis bancassurance," kata Suprajanto di Jakarta, Kamis (26/1/2017).
Di samping itu, BNI juga berhasil menyalurkan kredit sepanjang 2016 sebesar Rp393,28 triliun atau lebih besar 20,6% dari periode serupa tahun lalu yang tercatat Rp326,11 triliun.
"Sebesar Rp286,1 triliun atau 72,7% dari total kredit, disalurkan ke Segmen Bisnis Banking, sedangkan sebesar Rp 65,1 triliun atau 16,5% ke segmen Konsumer Banking. Sisanya sebesar 11,8% disalurkan melalui kantor-kantor cabang luar negeri dan perusahaan-perusahaan anak," paparnya.
Untuk kredit melalui Segmen Bisnis Banking, sekitar Rp95,8 triliun disalurkan melalui segmen korporasi yang mampu tumbuh 21,0%, dan kredit kepada BUMN sebesar Rp78,3 triliun atau tumbuh 33,3%. Sedangkan kredit kepada segmen menengah dan kecil masing-masing tumbuh 19,9% dan 20,5%.
Sementara itu, kredit ke segmen Konsumer Banking, terutama melalui pinjaman payroll yang tumbuh 128,1% dengan outstanding per 31 Desember 2016 mencapai Rp 8,9 triliun. Kredit Perumahan atau KPR per 31 Desember 2016 mencapai Rp36,4 triliun atau tumbuh 5,0% dan kartu kredit mencapai Rp10,5 triliun atau tumbuh 7,5%.
"Ekspansi kredit yang terus dilakukan menunjukkan fungsi intermediasi BNI berjalan dengan baik, ditunjukkan oleh Loan to deposit ratio (LDR) yang naik dari 87,8% menjadi 90,4%. Dan, NPL juga membaik dari 0,9% menjadi 0,4%," ujarnya.
Dengan demikian, BNI berhasil menorehkan pertumbuhan aset 18,6% atau menjadi Rp603,03 triliun sepanjang 2016 dari Rp508,59 triliun. Pertumbuhan Aset BNI terutama ditopang antara lain oleh pertumbuhan DPK dan Simpanan dari Bank lain.
DPK yang berhasil dihimpun mencapai Rp435,55 triliun pada akhir tahun 2016 atau naik 17,6%. Pertumbuhan DPK tersebut hampir setara dengan dua kali lipat dari pertumbuhan DPK industri perbankan pada November 2016 yang tercatat meningkat 8,4%.