INDUSTRY.co.id - Jakarta- Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan kenaikan suku bunga acuan bisa dilakukan berdasarkan data perekonomian terkini.
"Kalau data-data menyebutkan diperlukan kenaikan suku bunga, kita juga harus melakukan 'adjustment'," kata Mirza saat ditemui di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (8/5/2018)
Mirza menambahkan penyesuaian suku bunga acuan maupun "stance" kebijakan moneter lainnya yang dilakukan bank sentral dilakukan berdasarkan data-data inflasi, ekspor impor, neraca pembayaran serta arus modal dunia.
Selain itu, kenaikan suku bunga acuan ikut mempertimbangkan tren kenaikan suku bunga acuan yang sudah terjadi di negara-negara maju maupun berkembang seperti AS, Malaysia, Korea maupun Australia.
Hal-hal yang menjadi pertimbangan bank sentral untuk menyesuaikan suku bunga acuan, menurut Mirza, baru akan diputuskan pada Rapat Dewan Gubernur bulanan pada pertengahan Mei 2018.
Sebelumnya, pengamat ekonomi Tony Prasetiantono kepada awak media mengatakan kenaikan suku bunga acuan bisa menjadi upaya jangka pendek yang dilakukan bank sentral untuk menekan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
"Jangan alergi dengan menaikkan suku bunga karena ini bagian dari taktik jangka pendek," kata Tony.
Tony mengatakan kenaikan suku bunga acuan dari saat ini sebesar 4,25 persen bisa menjadi alternatif bank sentral untuk menjaga fluktuasi kurs rupiah agar tidak sepenuhnya bergantung dari cadangan devisa.
"Kalau naik setidaknya 25 basis poin, mudah-mudahan rupiah masih terselamatkan," kata Tony.