INDUSTRY.co.id - Jakarta - Menurut data International Finance Corporation (IFC), sekitar 95% korporasi di Indonesia adalah perusahaan keluarga. Jadi merujuk data itu, boleh dibilang perusahaan-perusahaan yang ada sekarang ini adalah perusahaan keluarga. 

Advertisement
Bagaimana perusahaan-perusahaan itu tumbuh besar? Pada ajang International Conference on Family Business & Entrepreneurship (ICFBE) tahun 2017, founder President University dan Chairman Grup Jababeka, SD Darmono, mengungkapkan bahwa banyak bisnis keluarga di Indonesia yang besar berkat KKN. 
 
Di sini KKN bukan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, melainkan Koneksi, Komunikasi dan Networking. Jadi, banyak perusahaan keluarga di Indonesia yang tumbuh dan besar berkat koneksi yang dimiliki oleh founder-nya, kemampuannya dalam berkomunikasi, dan luasnya jejaring yang mereka bangun.
 
Momentum kedua yang membesarkan bisnis perusahaan keluarga adalah liberalisasi ekonomi pada 1970-an hingga 1980-an. “Ini ditandai dengan dikeluarkannya berbagai paket kebijakan, seperti Paket Desember 1987, Paket Oktober 1988 dan berbagai paket lainnya. Paket-paket kebijakan itu mendorong berkembangnya industri pasar modal di Indonesia dan membuat banyak bisnis keluarga mengalami lompatan luar biasa,” papar Jony Haryanto, Rektor President University.
 
Jony memaparkannya pada ajang ICFBE 2018 yang berlangsung di Patra Bali Resorts & Villas di Kuta, Bali, Rabu (2/5/2018). ICFBE merupakan ajang seminar dan konferensi internasional tahunan yang diselenggarakan bersama-sama oleh President University dan Harian Bisnis Indonesia. 
 
Ajang ini mempertemukan para pebisnis dengan kalangan akademisi. ICFBE 2018 kali ini berlangsung selama dua hari, Rabu dan Kamis (2 - 3 Mei 2018), dan dihadiri oleh sekitar 150 peserta baik dari tujuh perguruan tinggi dari Indonesia dan luar negeri.
 
Menurut Jony, pasar modal berperan besar bagi bisnis perusahaan-perusahaan keluarga di Indonesia. Sebab pasar modal menyediakan dana sangat murah untuk pengembangan usaha.
 
 “Saya sebut sangat murah sebab hanya dengan menukar sebagian sahamnya, perusahaan-perusahaan ini memperoleh dana dari masyarakat tanpa perlu membayar bunga. Cukup dengan dividen. Bandingkan jika mereka harus meminjam uang dari bank atau lembaga keuangan lainnya. Mereka harus membayar pokok utang dan suku bunganya,” urai Jony. 
 
Namun, sayangnya belum banyak perusahaan keluarga di Indonesia yang memanfaatkan pasar modal. Menurut Badan Pusat Statistik tahun 2016, dari 26,7 juta perusahaan di Indonesia, 98,33% adalah usaha skala mikro dan kecil. Jadi hanya 450.000 yang skala menengah-besar. 
 
Berapa di antara mereka yang menjadi perusahaan publik? Sampai 30 April 2018, tercatat ada 617 perusahaan di bursa efek. Jadi hanya 0,14%-nya. Sangat sedikit. “Masih banyak perusahaan keluarga yang menghadapi masalah transparansi, keterbukaan informasi dan tata kelola,” kata Jony. 
 
Selain itu, kini perusahaan-perusahaan keluarga juga menghadapi tantangan baru, yakni perkembangan teknologi, terutama yang terkait dengan teknologi digital, Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI). 
 
Sudah banyak cerita mengenai perusahaan-perusahaan yang terdisrupsi oleh teknologi ini. Jaringan hotel ternama, seperti Hilton, JW Marriott atau InterContinental, misalnya kewalahan menghadapi Airbnb, perusahaan aplikasi yang dikembangkan Brian Chesky—seorang anak muda yang pada masanya bahkan tak mampu membayar uang kos.
 
Di Indonesia, bisnis perusahaan-perusahaan taksi terpangkas oleh hadirnya perusahaan aplikasi transportasi online semacam Uber Taxi atau GrabCar. Atau, perusahaan-perusahaan ritel terkemuka yang terpaksa menutup sebagian gerainya akibat konsumennya, terutama anak-anak muda, lebih suka berbelanja secara online. 
 
Ini baru permulaan. Ke depan, kata Jony, kian banyak perusahaan yang bakal terdisrupsi jika mereka tidak melakukan langkah-langkah antisipasi terhadap perkembangan teknologi. Beberapa tahun belakangan ini saja sudah banyak pekerjaan manusia yang digantikan oleh robot. 
 
Di perbankan, berapa banyak dari nasabah yang masih pergi ke bank dan berurusan dengan teller bank? Mereka lebih suka memakai ATM, mobile banking atau internet banking. Beberapa perusahaan konstruksi Indonesia mulai melakukan langkah-langkah antisipasi jika pekerjaan utama mereka dalam bidang konstruksi kelak terancam akibat hadirnya teknologi 3D printing. Di industri manufaktur atau pertambangan, beberapa pekerjaan yang tergolong berbahaya sudah diambil alih oleh robot. 
 
Foxxconn, pabrik di China yang membuat material untuk iPhone atau Xbox, sudah mem-PHK 60.000 pekerjanya dan menggantinya dengan robot. Pada tahun 2014, Associated Press mulai memanfaatkan aplikasi berbasis AI untuk menulis berita. Aplikasi ini mampu menulis 1.000 artikel per bulan, atau 33 artikel per hari. Adakah wartawan yang sanggup menulis artikel sebanyak ini? Kelak penulis di portal-portal berita masa depan bukan lagi jurnalis, tapi aplikasi berbasis AI. 
 
Hollywood juga telah mengembangkan teknologi Computer Generated Imagery (CGI). Dengan teknologi ini, bintang-bintang film lama  yang sudah meninggal bisa “dibangkitkan” sosok visualnya untuk kembali berakting. Mereka akan menjadi pesaing bagi para pendatang baru.
 
Simpul Jony, disrupsi semacam ini terus terjadi, dan sulit dibendung. Siapa bisa menahan laju perkembangan teknologi. Apalagi harga teknologi belakangan semakin murah, sementara di sisi lain biaya tenaga kerja kian mahal. Jika kondisi ini terus berlanjut, pada suatu titik peran tenaga kerja akhirnya benar-benar akan digantikan oleh teknologi. Fenomena semacam inilah yang tengah dan akan terus dihadapi oleh banyak perusahaan keluarga. Dan, menempatkan mereka pada simpang jalan.