INDUSTRY.co.id - Jakarta-Bank Muamalat masih menyandang rating credit watch dengan implikasi negatif. Rating ini sangat erat kitannya dengan kondisi bank tersebut yang belum mendapatkan kepastian investor baru yang membeli saham bank syariah pertama kali hadir di Indonesia.
Dyah Puspita Rini, analis Pefindo mengatakan, kepastian investor sebagai penambahan modal untuk Bank Muamalat. Mina Padi akhir tahun lalu gagal membawa investor bagi bank ini.
"Perkembangan ada perubahan calon investor untuk nambah modal karena paling krusial," kata dia di Jakarta, Jumat (13/4/2018).
Posisi Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio permodalan Bank Muamalat sampai saat ini di level 13 persen. Kondisi tersebut masih di atas batas ambang yang diijinkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mematok CAR minimal 8 persen bagi perbankan.
Lalu kenapa Bank Muamalat dituntut menambah modal, lanjut Dyah karena kalau tidak, ekspansi pembiayaan akan stagnan. Setelah Mina Padi belum berhasil memasok investor, kini belum jelas siapa yang pasti berminat membeli rigths issue bank ini di atas Rp 4 triliun lebih atau 51 persen saham.
"Pefindo terus memonitor proses rigths issue, percakapan managemen ada beberapa investor tapi belum final," katanya.
Sementara untuk peringkat surat utang jangka menengah idA, sukuk mudhorabah I subordinasi tahap II/2013 di idA-sy dan MTN syariah subordinasi I/2017 di idBBB+sy.
"Pefindo dapat menurunkan peringkat Bank Muamalat jika transaksi rigths issue untuk memperkuat profil permodalan bank yang lemah tidak dapat direalisasikan pada akhir Juni 2018," katanya.