INDUSTRY.co.id - Perusahaan BUMN, Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) resmi meluncurkan marketplace produk dan jasa BUMN bernama Pasar produk BUMN.com. Platform online ini sebagai jawaban atas ajakan pemerintah mengembangkan ekonomi digital.
“Produk yang dijual dalam PasarprodukBUMN.com memang benar-benar berasal dari BUMN. Saat ini, ada sekitar 30 BUMN tergabung dalam kanal online tersebut. Dalam waktu dekat, setidaknya sampai akhir tahun Didik berharap ada 40 BUMN bergabung menjual produk mereka sampai tahun depan mau bergabung semua,”kata CEO RNI Didik Prasetyo, Rabu (21/9/2016).
Sekarang ini BUMN lintas sektor sudah ikut bergabung mulai dari maskapai Garuda Indonesia, Pertamina, Perhutani, sampai anak-anak perusahaan RNI seperti Raja Gula dan Indofarma. Tentu saja platform pembayaran online PasarprodukBUMN.com bisa melalui teknologi perbankan digital khusus bank BUMN seperti BNI, BRI, dan Mandiri.
“Pada tahun 2020 pemerintah ingin pasar e-commerce dalam negeri mencapai Rp 1.729 triliun. Sekarang, masih di angka Rp 332 triliun dengan sekitar delapan juta penduduk sudah merasakan belanja online.
“Kami ingin membantu mencapai target itu lewat PasarprodukBUMN.com. Karena BUMN sendiri menghasilkan dividen Rp34 triliun dalam satu tahun. Sayang sekali jika potensi ini tidak digitalisasi,” sambung Didik.
Jumlah delapan juga dari jumlah populasi itu sebenarnya masih sangat kecil dari negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Filipina, dan Vietnam yang persentase pembelanja online-nya bisa mencapai 60%.
Namun, dengan jumlah kecil itu Indonesia masih sangat tinggi dari segi pertumbuhan nilai belanja online per tahunnya yang mencapai 42%. Saat ini, negara seperti Malaysia pertumbuhannya 14% sementara Filipina 28%.
Berapa investasi yang dikucurkan oleh RNI sendiri? Menurut Didik masih terbilang murah, hanya Rp500 juta saja.
“Belum ada target berapa penjualan dan pemasukan dalam waktu dekat. Selain itu, sistem logistik kami yang handle sementara pengiriman juga dilakukan oleh perusahaan logistik BUMN seperti Pos Indonesia,” tutup Didik. (Ahmad Fadli)