INDUSTRY.co.id - Jakarta- Meski baru diresmikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno LP Marsudi dan Menlu Singapura Vivian Balakrishnan pada Selasa (20/3/2018), kini sekitar 15 start up asal Singapura dan Indonesia sudah mulai bergabung di Nongsa Digital Park (NGP).
Duta Besar Indonesia untuk Singapura Ngurah Swajaya di sela-sela kunjungan kerjanya di Jakarta, Sabtu (24/3/2018) mengatakan sudah ada 15 start up yang bergabung namun baru tiga yang mulai beroperasi di sana.
Ia menyebut satu dari 15 start up yang bergabung di NDP merupakan start up asal Indonesia yang memang sudah beroperasi di Singapura dan kini ikut bergabung di Nongsa, Batam.
"Ini menjadi daya tarik, ada kolaborasi Indonesia dan Singapura untuk menarik start up dari seluruh dunia untuk berinvestasi dan berkolaborasi di sana. Yang lebih penting, seperti kata Bu Menlu, bukan hanya dilihat dari potensi ekonomi dua negara saja, tapi bagaimana memanfaatkan potensi ekonomi ASEAN yang populasinya mencapai 600 juta jiwa," katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa alasan kuat mengembangkan NDP di Batam karena di sana sumber daya manusia untuk pengembangan ekonomi digital banyak, selain jaraknya yang sangat dekat dengan Singapura.
Seperti diketahui pergerakan ekonomi digital dunia berkumpul di Singapura, sehingga jika mereka mengetahui Batam memiliki sumber daya manusianya, sarana dan prasarananya, teknologinya maka harapannya ini akan membuka celah untuk pengembangan sektor ekonomi baru, ujar dia.
Pada 2017, Batam menggelar "coding competition" dan dari hasil seleksi lolos 518 peserta yang 60 persennya berasal dari Batam. Kebanyakan mereka berasal dari Politeknik Batam dan mereka mengembangkan teknologi finansial, digital kesehatan dan sebagainya, kata Swajaya.
NDP yang dibangun di Nongsa, Batam, di lahan seluas 166 hektare (ha) merupakan salah satu bentuk konkrit dari kerja sama bilateral Indonesia dengan Singapura yang disepakati Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Lee Hsien Loong pada pertemuan September 2017 di Singapura.
Pemerintah mengincar investasi sebesar 500 juta dolar di industri digital dan start up yang diharapkan mampu membuka kesepatan kerja baru bagi 10.000 pekerja.
Swajaya mengatakan ini juga termasuk salah satu bentuk kerja sama para ahli-ahli digital Indonesia dan Singapura. Berbagai kegiatan dilakukan di sini seperti "training for trainer", peningaktan sumber daya manusa termasuk untuk anak-anak SMA memahami masa depan ekonomi digital dunia. (Ant)