INDUSTRY.co.id - Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Jawa Tengah akan mengontrol produksi di tingkat petani melalui sistem informasi harga dan produksi komoditi (sihati).
"Selama ini sihati kan lebih banyak digunakan untuk mengetahui harga yang sedang berlaku saat itu, ke depan akan menyentuh produksi," kata Deputi BI Kanwil Jawa Tengah Rahmat Dwisaputra di Semarang, Kamis (12/1/2017).
Dengan begitu, masyarakat maupun pedagang akan mengetahui daerah mana saja yang sedang melakukan panen. Selain itu, secara tidak langsung masyarakat juga akan mengetahui bagaimana kondisi stok komoditas pokok di Jawa Tengah.
"Dengan adanya keterbukaan tersebut masyarakat akan mengetahui dengan segera. Dalam hal ini kita dapat menjaga ekspektasi masyarakat," katanya.
Meski demikian, Rahmat mengakui BI maupun Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) belum mampu mengarahkan penjualan yang dilakukan oleh para petani.
"Secara hukum pasar mereka akan mencari harga yang terbaik, kalau harga terbaik ternyata di luar kota tentu mereka akan menjualnya ke luar," katanya.
Hal itu berlaku sebaliknya, para pedagang juga akan mencari harga terbaik dari para tengkulak. Ketika tengkulak lokal memberikan harga tinggi dan harga rendah justru dari tengkulak luar kota maka pedagang akan membeli dari tengkulak luar kota.
Sementara itu, kaitannya dengan menjaga inflasi tahun ini, BI bersama dengan TPID akan melakukan kegiatan seperti tahun lalu di antaranya pasar murah dan sidak pasar.
"Pelaksanaan pasar murah masih bermanfaat untuk mengarahkan ekspektasi konsumen, selain itu sidak pasar juga berpengaruh. Selain mengantisipasi kemungkinan permainan harga oleh pihak tertentu, sidak pasar ini merupakan bukti adanya perhatian dari pemerintah," katanya.(Hrb)