INDUSTRY.co.id - Semarang- Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Provinsi Jawa Tengah berupaya meredam isu mengenai rectoverso atau gambar saling isi pada pecahan rupiah tahun emisi 2016.

Advertisement

"Salah satu upaya yang kami lakukan adalah melakukan sosialisasi dengan mengundang pihak yang berinteraksi langsung dengan masyarakat di antaranya TNI dan Polri melalui Babinsa dan Babinkamtibmas," kata Deputi BI Kanwil Jawa Tengah Rahmat Dwisaputra di sela kegiatan sosialisasi di Kantor BI Semarang, Rabu (11/1/2017)

Mengenai gambar rectoverso yang dianggap sebagai simbol palu arit oleh pihak tertentu, ia menjelaskan gambar tersebut merupakan pengaman rupiah.

Advertisement

"Jika uang diterawang akan terlihat gambar tersebut terbagi tiga dan akan membentuk satu bulatan dan itulah lambang BI," katanya.

Gambar rectoverso tersebut berfungsi sebagai pengaman agar mata uang rupiah tidak mudah dipalsukan.

Advertisement

"Oleh karena itu, kami berharap isu mengenai rectoverso ini tidak dibawa kemana-mana. Pada dasarnya ini merupakan metode kami sebagai pengaman dari rupiah," katanya.

Rahmat mengakui, isu yang sebetulnya berkembang bukan hanya mengenai rectoverso tetapi juga warna mata uang yang dikatakan mirip warna uang negara tertentu dan pemilihan pahlawan nasional yang tidak cermat.

Advertisement

"Mengenai penerbitan uang ini yang perlu kami sampaikan adalah bahwa rupiah sebagai tanda kedaulatan Republik Indonesia, jadi penerbitannya melalui prosedur yang ketat dan tepat, sesuai amanat UU Nomor 7 tahun 2017," katanya seperti dikutip Antara.

Selain melibatkan TNI dan Polri, BI juga melakukan sosialisasi kepada ulama.

"Hari ini kami langsung melakukan sosialisasi kepada ulama, diharapkan langkah sosialisasi ini mampu meredam isu yang tidak benar," katanya.(Hrb)