INDUSTRY.co.id, Kulon Progo - Pembangunan bandara baru New Yogyakarta Internatioan Airport (NYIA) di Kabuaten Kulon Progo, DI Yogyakarta dinilai akan menaikkan angka kunjungan wisata setempat dan makin memudahkan transportasi ke Yogyakarta.
Saat ini, Yogyakarta tercatat sebagai daerah nomor dua tujuan wisata di Indonesia setelah Bali. Karena itulah, General Manager Bandara Adisutjipto PT Angkasa Pura I Yogyakarta Agus Pandu Purnama menilai dengan dibangunnya bandara baru akan melejitkan angka kunjungan wisata.
Agus menjelaskan bahwa saat ini Bandara Adisutjipto yang ada di Yogyakarta sudah melebihi kapasitas. Tercatat Bandara Adisutjipto saat ini hanya memiliki kapasitas penumpang kurang lebih 1,8 juta penumpang, sementara jumlah penumpang yang dilayani mencapai 7,8 juta penumpang per tahun.
"Bandara ini kan bisa dibilang alat produksi industri pariwisata. Dengan bandara baru, kita akan punya daya tampung sebanyak 14 juta. Itu berarti dua kali lipat dengan jumlah kedatangan saat ini yang mencapai 7,8 juta," ujar Pandu kepada awak media di kantornya, Minggu (4/2/2018).
Dengan kapasitas sebesar itu, Agus optimistis keberadaan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo, akan mendongkrak jumlah kunjungan wisata ke Yogyakarta dan sekitarnya.
Agus menyatakan pembangunan Bandara NYIA mendesak untuk dilakukan dikarenakan pengoperasiannya sudah ditargetkan pada 2019, diamanatkan melalui Peraturan Presiden No. 98/2017 tentang percepatan pembangunan dan pengoperasian bandara di Kulon Progo.
"Dengan 7,8 juta penumpang per tahun tersebut, rata-rata tren kenaikan penumpang 8,41% tiap tahunnya. Jadi memang sangat mendesak," tegas Agus.
Agus juga mencatat pergerakkan pesawat pun terus menunjukkan tren peningkatan, bila 2016 sebanyak 53.752, di tahun 2017 mencapai 57.677 dengan rata-rata persentase kenaikan 7,30%.
Lonjakan yang terlalu tinggi dari standar inilah yang juga membuat ruang gerak penumpang minim di bandara ini. Sesuai standar Kementerian Perhubungan setiap 1 orang penumpang idealnya berhak mendapatkan ruang 8 m2 di ruang tunggu, namun saat ini hanya mendapat ruang 1,2 m2.
Ruang tunggu bandara Adisutjipto yang terdiri dari terminal A dan B, keduanya nampak dipadati penumpang. Untuk penerbangan internasional, ruang tunggunya menyatu dengan ruang tunggu penerbangan domestik, namun dia berada disisi berbeda dengan kapasitas yang nampak cukup kecil menampung penumpang.
Kondisi tersebut, lanjut dia, membuat ketidakyamanan turis mancanegara untuk datang ke Yogyakarta melalui bandara yang dikelolanya. Terlebih dengan panjang landasan pacu 2.200 meter tak mampu menampung pesawat berukuran besar dari penerbangan asing. Itu mengapa di bandara ini hanya ada penerbangan asing dari negara tetangga, Malaysia dan Singapura.
"Bandara ini enggak bisa dikembangkan lagi. Keterbatasan lahan dan ada kendala obstacle (kendala alam) ada Gunung Ratu Boko disisi timur. Ini jadi obstacle mengerikan untuk penerbang junior," ungkapnya.
Padahal kata dia, banyak maskapai penerbangan asing yang berminat untuk terbang langsung ke Yogyakarta. Hal ini pun berdampak pada okupansi hotel di Yogyakarta yang berada dibawah 50%, padahal kota pelajar ini menjadi tujuan wisata nomor dua di Indonesia setelah Bali.
Dengan adanya Bandara Kulonprogo maka akan memberi kesegaran baru bagi perjalanan menggunakan moda transportasi pesawat. Bila tahap I dapat menampung 14 juta penumpang, pada pembangunan tahap II bandara baru ini akan dapat menampung 20 juta penumpang.
"Di Bandara baru nanti, pesawat badan besar bisa mendarat. Jadi akan banyak penerbangan internasional yang bisa langsung ke Jogja termasuk penerbangan haji. Dengan bandara baru, jamaah haji di kawasan Jawa Tengah dan DI Yogyakarta bisa langsung terbang ke Arab Saudi," tutur Agus.
Senada, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo juga tengah bersiap mengembangkan 12 objek wisata di kawasan Bukit Menoreh untuk menyambut berdirinya bandara baru, selain juga untuk menyangga kawasan wisata Candi Borobudur.
Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo mengatakan 12 objek wisata yang dimaksud, yakni Waduk Sermo, Kalibiru, Gua Kidang, Gunung Gajah, Pule Payung, Tuk Mudal, Kedung Pedut, Ayunan Langit, Gua Suplayan, Nglinggo, Suroloyo dan destinasi wisata regiligi Sendangsono.
"Kami juga mengembangkan wisata yang berbasis budaya dan sejarah karena tidak mudah ditiru dan memiliki daya tarik sendiri. Kesemuanya dalam rangka menyambut beroperasinya bandara dan kawasan Borobudur," kata Hasto seperti dikutip Antara, Kamis (1/2/2018).
Salah satu infrastruktur jalan pendukung bandara yakni akses ke tempat wisata meliputi Gemulung-Soka, Bulu-Clereng, Simpang Clereng- Segajih, Slanden-Bolong, palang kereta api barat-Gemulung (Sermo).
"Total panjang jalan infrastruktur jalan pendukung bandara 92,015 kilometer. Soal anggaran yang dibutuhkan masih dalam kajian," katanya.