INDUSTRY.co.id - Jakarta, Ketua Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI), Agus Warsito mengungkapkan kondisi peternakan sapi perah saat ini kurang menguntungkan.

Advertisement

Pasalnya, harga susu yang diterima oleh peternak sapi perah rakyat saai ini masih sangat rendah, sehingga tidak menutup biaya operasional.

"Kondisi saat ini sangat berat, harga susu masih sangat rendah, tak nutup biaya operasional," ujar Agus saat dihubungi INDUSTRY.co.id di Jakarta, Minggu (28/1/2018).

Advertisement

Saat ini, harga susu segar di tingkat peternak berkisar Rp 5.500 per liter, di mana harga tersebut belum menutupi ongkos produksi yang harus dikeluarkan peternak.

"Mestinya peternak terima diharga minimal Rp6.500,- per Liternya," terangnya.

Advertisement

Lebih lanjut, Agus meminta kepada pemerintah untuk tegas mengendalikan importasi susu dalam bentuk apapun, guna melindungi peternakan sapi perah rakyat yang semakin termarginalkan.

Seperti diketahui, saat ini kebutuhan susu dalam negeri mencapai 3,8 juta ton per tahun, sementara susu segar dalam negeri (SSDN) hanya mencapai 850 ribu ton per tahun. Sehingga kita harus impor 2,95 jutabton per tahun untuk mencukupi kebutuhan susu dalam negeri.

Advertisement

Menuriutnya, pabrikan lebih memilih impor yg sampai di Negara kita sudah dalam bentuk bubuk (bukan susu segar), sehingga jatuhnya harga jadi lebih murah dan tidak repot bagi pabrik untuk mengolahnya jadi produk siap konsumsi

"Kalau mau adil, mestinya impor itu juga dalam bentuk Susu Segar (cair)," tegas Agus.

Agus juga mengeluhkan populasi sapi perah di peternakan rakyat yang kian mengalami penurunan. Populasi sapi perah saat ini berkisar 533.000 ekor, di mana hanya terdapat 267.000 ekor sapi laktasi.

Karena itulah saat ini banyak peternak sapi perah yang hanya berupa sambilan. Peternak yang memang fokus menjalankan peternakan sapi perah banyak yang menutup peteranakannya lantaran merasa rugi.

"Yang peternak sekarang banyak sambilan, artinya dia tidak menghitung biaya hijauan, konsentrat, tenaga, obat-obatan dan sebagainya," tambah Agus.

Saat ini, lanjutnya, beberapa Industri Pengolahan Susu (IPS) pun mencoba mengintegrasikan industri dengan sistem peternakan mandiri (mega farm).

Meski begitu, Agus pun mengatakan hal tersebut tidak akan berdampak langsung pada peternakan rakyat, namun kebutuhan susu segar untuk IPS akan terpenuhi dan mengurangi ketergantungan IPS atas susu impor.

Agus bilang, saat ini peternakan sapi perah hanya mampu memenuhi 17% dari total kebutuhan susu segar yang mencapai rata-rata 3,7-3,8 juta ton setiap tahunnya. Dengan perhitungan, bila terdapat 6 mega farm yang menambah populasi sapi perah, maka akan menambah 20% kebutuhan susu nasional.

Untuk menumbuhkan peternakan sapi perah rakyat, Agus berharap industri membangun kemintraan dengan peternak sesuai dengan Permentan yang ada. Selain itu, Industri pun diharapkan bisa memberikan dukungan bagi peternak.

"Contohnya bisa dalam bentuk pengadaan ternak yang dibibitkan atau dipinjamkan bagi peternak, bantuan prasarana, bantuan pemberian pakan, barangkali bisa juga pengarahan dan pembinaan dalam beternak kepada petani," tutur Agus.