INDUSTRY.co.id, Jakarta - Terbentuknya perusahaan induk (holding) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor jasa keuangan masih menunggu proses di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Direktur Utama BTN Maryono mengatakan, proses tersebut tinggal menunggu finalisasi sehingga perusahaan jasa keuangan yang sudah termasuk perusahaan terbuka (Tbk) segera menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) guna menyampaikan rencana holding BUMN jasa keuangan.
"Karena prosesnya tinggal final saja. Insya Allah malah lebih cepat," ucap Maryono belum lama ini.
Setelah holding jasa keuangan resmi terbentuk, biaya transfer antarbank BUMN kemungkinan dihapuskan secara bertahap. Saat ini tarif pengiriman uang antarrekening bank BUMN contohnya dari Mandiri ke BTN masih dipatok sebesar Rp4.000.
"Kan sekarang masih Rp4.000 diarahkan ke sana (gratis) secara bertahap. Bisa Efisien sehingga nasabah holding standarnya sama," imbuh dia.
Selain itu, holdingisasi bakal menciptakan efesiensi dalam penggunaan mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Semua bank pelat merah dapat berbagi mesin ATM yang sama sehingga nasabah mendapat akses ke lebih dari 60 ribu mesin ATM di seluruh Tanah Air.
"Kita juga melakukan koordinasi antara bisnis-bisnis bank. Terkait dengan ATM Himbara dan sebagainya misalnya sistemnya akan dijadikan satu," tambah dia.
Adapun PT Danareksa (Persero) akan ditunjuk untuk menjadi induk dari holding BUMN jasa keuangan. Di dalamnya akan meliputi empat bank Himbara, BNI, BRI, BTN, dan Bank Mandiri ditambah PT Jalin Pembayaran Nusantara (JPN), PT Permodalan Nasional Madani (Persero) (PMN), dan PT Pegadaian (Persero).