INDUSTRY.co.id, Jakarta - Bahana Securities memperkirakan inflasi pada tahun 2017 berpotensi naik menyusul rencana pemerintah yang akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik.
"Tantangan ke depan ini, tekanan inflasi berasal dari 'administered price' seperti penyesuaian harga bahan bakar minyak dan listrik," kata Ekonom Bahana Securities Fakhrul Fulvian dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (4/1/2017).
Ia megemukakan bahwa pemerintah berencana mencabut subsidi untuk pelanggan listrik dengan daya 990 VA, jumlah pelanggan itu diperkirakan mencapai 18,8 juta pelanggan. Rencana pemerintah itu akan dilakukan secara bertahap sebanyak tiga kali, yang dimulai pada awal tahun ini.
"Peran pemerintah untuk membenahi sisi suplai menjadi sangat penting, misalnya dengan membenahi jalur distribusi diharapkan bisa meminimalisasi dampak kenaikan harga BBM dan listrik," katanya.
Kendati demikian, lanjut dia, pemerintah masih akan berhati-hati dalam mengeksekusi rencana itu karena pemerintah juga menargetkan inflasi tidak akan melampaui 4 persen.
Bila kenaikan harga listrik dan BBM tetap akan dilaksanakan, Fakhrul Fulvian meyakini kementerian koordinator perekonomian akan mempersiapkan program pengendalian inflasi yang terfokus pada stabilisasi harga bahan kebutuhan pokok.
Pada 2016, BPS mencatat indeks harga konsumen sebesar 0,42 persen secara bulanan pada Desember lalu, sehingga akumulasi inflasi Indonesia Januari-Desember mencapai 3,02 persen secara tahunan. Inflasi inti sepanjang Januari-Desember tercatat sebesar 3,07 persen, secara tahunan. Pada 2017, Bahana memperkirakan inflasi pada akhir tahun ini bisa naik menjadi 3,8 persen.
"Tahun ini pemerintah cukup mampu mengantisipasi kenaikan harga makanan, sehingga tekanan harga dari bahan makanan tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya," paparnya.(iaf/ant)