INDUSTRY co.id -Bogor - CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengapresiasi langkah Bank BTN membuka ruang untuk kembali menyalurkan dana FLPP pada 2018.
“Rencana komitmen tersebut harus diapresiasi sebagai bentuk kepedulian Bank BTN terhadap penyediaan rumah rakyat. Dengan kembalinya Bank BTN dalam FLPP, maka para pengembang perumahan sederhana pun tidak perlu khawatir lagi dengan keberlangsungan pembiayaan perumahan, karena akan menambah besar porsi penyerapan kredit rumah ke depannya,” kata Ali di Bogor, Minggu (24/12/2017).
Menurut Ali, sejak BTN tidak lagi menyalurkan FLPP pada 2017, data IPW merekam sebanyak 33 bank lain penyalur FLPP hanya mengambil porsi sebesar 12,3% dari total dana pemerintah tersebut. Sebaliknya, secara total Bank BTN masih memegang porsi terbesar yakni 87,7% dari penyaluran FLPP.
Ali mengkhawatirkan belum terlibatnya Bank BTN dalam penyaluran FLPP 2018. Dia menilai kondisi tersebut akan membuat penyerapan FLPP akan terus merosot. Data November 2017 mencatat penyaluran FLPP baru mencapai 43,06% dari target atau hanya sebanyak 17.227 unit.
Angka tersebut, lanjut Ali, anjlok 61,8% secara tahunan (year-on-year/yoy). Menilik dari nilai penyaluran pun terpantau merosot 55,6% yoy dari Rp4,42 triliun pada November 2016 menjadi hanya Rp1,97 triliun di bulan yang sama tahun ini.
Ali menjelaskan banyak bank yang tidak mau ikut menyalurkan KPR subsidi karena mekanisme yang kompleks dan rumit hingga tersendatnya pencairan dana dari pemerintah.
Selain itu, dengan nilai kredit yang relatif sangat kecil membuat bank harus melakukan effort lebih dibandingkan penyaluran kredit untuk segmen menengah ke atas yang lebih menguntungkan.
“Dengan sepak terjang Bank BTN sebagai penyalur FLPP dengan core perumahan seharusnya membuat pemerintah tidak tutup mata dengan peran Bank BTN,” tegas Ali.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Ekonom Bank BTN Winang Budoyo mengatakan sektor perumahan di Indonesia masih memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan. Adanya dukungan pemerintah, bonus demografi, serta kebijakan relaksasi loan-to-value Bank Indonesia (LTV BI) terus mendorong pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) serta menjaga kualitas kredit.
Dengan potensi besar tersebut, didukung melesatnya kinerja Bank BTN dalam Program Satu Juta Rumah, selama tiga tahun terakhir telah membuat harga saham BBTN melesat sebesar 191%. Kenaikan tersebut jauh meninggalkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tumbuh di level 19% untuk periode yang sama.
Winang menyebutkan harga saham BBTN pada awal 2017 tercatat berada di posisi Rp1.740 dan terus melesat mencapai titik tertinggi di Rp3.350 pada 7 Desember 2017.
Beberapa analis, tambah dia, menyebut target price bergerak di antara 3.300-4.000 dalam dua belas bulan ke depan. “Potensi kenaikan harga BBTN masih terbuka lebar, apalagi melihat kondisi historis yang ada,” tutur Winang.