INDUSTRY.co.id - Jakarta- Dalam silang sengkarut Partai Golkar pada saat ini, ada sosok yang kapabilitasnya bisa memerankan diri sebagai rehabilitator, dan kemampuan itu tidak dimiliki oleh calon Ketum Golkar yang lain.

Keunggulan itu akan bisa mengubah eksistensi partai Golkar dalam era basis massa menjadi semakin diterima masyarakat dan kembali memiliki peran penting dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Dalam catatan Gerakan Arus Bawah Pembaharuan Partai Golkar keunggulan itu melekat pada Titiek Soeharto, antara lain:

Pertama, Titiek Soeharto memperoleh trust (kepercayaan) dalam pandangan masyarakat. Bisa dikatakan dari mayoritas masyarakat, khususnya masyarakat menengah ke bawah. Trust ini berupa jaringan sosial-politik-ekonomi-komunitas yang tidak hanya terbangun dari warisan orang tuanya ---Presiden Soeharto yang telah mengakar selama 32 tahun---, tapi juga dibangun sendiri melalui serangkaian kegiatan sosial sebelum terjun ke dunia politik (sebagai anggota legislatif Partai Golkar) maupun setelah duduk di parlemen.

Sebagian orang mengganggap trust ini sudah tidak ada, karena analisis gencar sejumlah elit politik yang selalu mengobarkan permusuhan pada keluarga Pak Harto.

Namun sejatinya trust itu masih terawat rapi (dari Sabang-Merauke) dan jika sewaktu-waktu jaringan massa ini dihidupkan, akan menjelma sebagai kekuatan politik yang besar. Hanya dengan menempatkan keluarga Pak Harto dalam suprastruktur politik, trust ini bisa dikapitalisasi dalam gerakan politik.

Sebagaimana pernah mencuat menjelang pemilu legislatif tahun 2014, di kalangan pesantren yang secara tradisional memiliki hubungan historis dengan Pak Harto, muncul istilah : "Keluarga Pak Harto Yes, Golkar No" menyikapi pencalegan Titiek Soeharto. Pesan itu menyiratkan bahwa hanya akan memberikan trust itu seperlunya (memberi suara secukupnya), kecuali jika Titiek Soeharto atau Keluarga Pak Harto mengendalikan Partai Golkar.

Trust ini mengacu pada keyakinan bahwa keluarga Pak Harto memiliki genetika kepemimpinan yang lebih baik dalam memegang amanah bagi perjuangan bangsa, dibanding perilaku pragmatis pada era ini. Namun trust itu hanya akan disalurkan dalam kadar seperlunya pada figur yang tepat.

Sayangnya elit Golkar yang kurang cepat menyadari potensi ini, untuk menggelembungkan perolehan suaranya. Golkar telah menyia-nyiakan potensi tersebut. Golkar belum menempatkan Titiek Soeharto sebagai figur sekaligus memanfaatkannya sebagai perangkai jaringan massa.

Golkar pada era reformasi, hanya memiliki Akbar Tanjung sebagai figur yang mengakar. Tidak hanya diterima internal partai golkar, tapi juga lintas elemen masyarakat sehingga bisa membawa Golkar memiliki suara mayoritas di parlemen.

Akbar seorang mantan aktivis mahasiswa yang mengakar. Tidak hanya mampu komunikasi internal dengan Golkar, tapi juga elemen di luarnya.

Jusuf kalla dan Aburizal Bakri merupakan figur pengusaha, memiliki instrumen finansial, namun kurang mengakar hingga level bawah. Mereka berdua akhirnya gagal membawa Golkar memiliki suara mayoritas, walaupun didukung anggaran kampanye media yang bagus.

Selain ketiga tokoh itu, Golkar pada era reformasi dihuni "kader jenggot", kader yang menggantung pada ketrampilan traksaksional politik, namun tidak mengakar pada masyarakat.

Kini Golkar kembali memiliki figur yang mengakar itu, pada diri Titiek Soeharto. Tinggal mau mengkapitalisasi untuk penggelembungan/kejayaan Partai Golkar atau tidak. Tergantung warga Golkar sendiri memahami realitas kekinian dan masa depannya.

Kedua, momentum membuncahnya kerinduan publik pada keberhasilan pembangunan Orde Baru. Pada awal reformasi, orde baru dipersepsi sebagai "era old" . Tapi saat ini, setelah hampir 20 tahun, pendulum sedang bergerak membangun antitesa baru, bahwa "perilaku korup dan pragmatis" pada era reformasilah yang pada saat ini mulai dinilai sebagai "zaman old" oleh generasi "zaman now".

Kerinduan pada Orba bukan dalam makna "ingin kembali ke zaman dulu/kembali ke waktu dulu" yang itu tidak mungkin. Kerinduan itu mengacu pada kerinduan pada stabilitas bangsa sebagaimana tercipta di era orba, kerinduan akan pertumbuhan ekonomi era orba (rata-rata di atas 7%) yang kini belum bisa dicapai kembali, kerinduan akan pemerataan pembangunan sebagaimana era orba dimana saat ini kesenjangan semakin lebar (gini ratio yang baik), kerinduan Indonesia berdaulat dalam pangan-ekonomi dimana ekspor surplus sebagaimana era orba (sekarang banyak tenaga kerja asing menguasai lapangan kerja Indoensia), juga kerinduan Indonesia memiliki peran internasional yang berwibawa.

Publik hari ini menginginkan perubahan, dari perilaku korup-pragmatis era reformasi, untuk kembali kepada kemurnian perjuangan bangsa berdasarkan Pancasila.

Perilaku korup dan pragmatis era reformasi itu kini menjadi "perilaku old" dari "generasi old" untuk digantikan pembaharuan oleh "generasi now" pada kembalinya ketulusan perjuangan pembangunan bangsa berdasarkan Pancasila secara murni dan konsekuen.

Ada yang mengatakan bahwa "generasi anak-anak sekarang tidak paham keberhasilan era orba". Itu pandangan yang salah. Pantauan dari berbagai aktivitas medsos menunjukkan bahwa transformasi keberhasilan pembangunan era orba ternyata juga ditransformasikan oleh para orang tua mereka. Bahwa citra buruk kepada era orba hanya berlangsung singkat pada awal-awal reformasi (5 s.d 10 tahun). Kini mereka banyak merindukan keberhasilan era orba, sebagaimana transformasi orang tuanya. *"Cerita papa-mama saya, Pak Harto Pemimpin paling berhasil"*, begitu komentar anak-anak "zaman now" di medsos.

Survei-survei netizen selalu menempatkan keterpilihan Titiek Soeharto di atas 70% untuk menjadi Ketum Golkar dibanding calon lain.

Kerinduan kepada kejayaan pembangunan bangsa (era orba), di mana Golkar berada di dalamnya sebagai penopang utama pembangunan, hanya bisa dikapitalisasi oleh orang tepat, dan dalam sosok Partai Golkar hari ini melekat pada Titiek Soeharto. Ia menjadi harapan baru bagi pembaharuan atas penyimpangan era reformasi.

Reformasi merupakan keharusan, namun penyimpangan dari spirit Pancasila (kurang berpihak pada kedaulatan bangsa, keadilan, pemerataan, perilaku pragmatis, tidak pro kepentingan rakyat kecil) dalam pembangunan bangsa, merupakan satu hal yang harus dikoreksi pula.

Ketiga, Titiek Soeharto bukan bagian dari komplikasi faksionalisasi politik selama reformasi. Titiek Soeharto tidak berada dalam "sandera" konflik faksional internal Partai Golkar selama era reformasi. Sehingga keberadaannya bisa membawa suasana baru untuk lepas dari konflik faksional sehingga energi Golkar bisa fokus membesarkan partai.

Keempat, Titiek Soeharto tidak tersandera komplikasi problem moral. Titiek Soeharto juga bukan merupakan bagian atau sisiran faksi-faksi politik yang telah atau tersandera dugaan korupsi atau problem moral masa lalu (selama reformasi), sehingga tidak akan membebani bagi upaya rehabilitasi partai Golkar dan itu akan memberikan keterpilihan caleg pada semua tingkatan akan semakin besar.

Kelima, Titiek Soeharto merupakan figur yang merdeka dalam semua aspek. Ia bukan politisi yang gerakan politiknya menggantung pada APBN. Ia juga bukan orang yang sumber ekonominya menggantungkan diri dari kegiatan politik.

Kemerdekaan eksistensinya itu akan melepaskan partai Golkar dari berbagai sandera. Sebagaimana kita tahu kebanyakan politisi saat ini, yang gerakan politiknya, bahkan penopang ekonominya bertumpu pada APBN.

Kini saatnya DPD-DPD Golkar menentukan masa depannya. Akan menjadi partai nomer dua atau bahkan terpuruk, atau akan bangkit menjadi partai pemenang. Semoga Partai Golkar berhasil memilih pemimpin baru yang mengakar pada rakyat.