INDUSTRY.co.id - Jakarta- Lantas bagaimana merehabilitasi Golkar yang terpuruk saat ini untuk bisa bangkit dalam waktu cepat?. Kuncinya ada pada kepemimpinan partai Golkar.

Gerakan Arus Bawah Pembaharuan Partai Golkar punya sejumlah saran diantaranya

Kepemimpinan Partai Golkar (dari figur ketumnya) seharusnya merupakan figur:

  1. Mengakar

Mampu diterima dan mampu menggerakkan massa rakyat untuk bersama-sama dalam satu barisan memajukan bangsa. Ialah kepemimpinan Golkar yang mengakar pada massa rakyat.

Bukan tokoh yang gerakan politiknya menggantung pada APBN. Bukan ketokohan kader "jenggot", yaitu ketokohan menggantung dari pragmatisme lobi politik yang satu ke lobi politik yang lain, namun jauh dari rakyat.

Perlu diingat, bahwa perpolitikan kita pada saat ini berada pada era bassis massa, bahwa kemampuan diterima dan bahkan mampu mengerakkan perjuangan bersama rakyat akan menentukan eksistensi sebuah partai.

Menyerahkan kepemimpinan Golkar pada sosok yang tidak bisa menjadi magnet bagi publik, akan sama artinya membenamkan kesempatan para caleg Golkar dari pusat hingga daerah untuk terpilih dalam pemilu.

2. Terbebas dari jeratan perilaku korup, komplikasi moral (tidak "cacat moral" dalam pandangan masyarakat) .

Ialah bagian perilaku korup dan komplikasi moral yang telah disaksikan dan direkam memory publik mewarnai jagad politik pasca reformasi.

Kepemimpinan Golkar yang masih teridentifikasi merupakan bagian perilaku korup dan komplikasi moral pada era reformasi, termasuk "Generasi Old" yang tidak akan diterima oleh massa rakyat. Keberadaannya akan menjadi beban dalam rehabilitasi Partai Golkar.

3. Terbebas dari konflik faksional yang telah mengakar di tubuh partai Golkar selama era reformasi.

Golkar memerlukan kepemimpinan yang tidak menjadi bagian dari konflik faksional selama ini (pasca Akbar Tanjung hingga sekarang). Masa lalu konflik faksional yang terbawa pada kepemimpinan Golkar terpilih, akan menyandera partai ini dari upaya rehabilitasi.

Upaya memenangkan pemilu akan terbengkalai.