INDUSTRY.co.id - Jakarta- Golkar hari ini dihajar buah perilaku pragmatisnya sendiri politik transaksional, yang telah diperagakan secara vulgar beberapa saat setelah era reformasi.

Pasca Akbar Tanjung, visi idiologi Golkar sebagai instrumen perjuangan penegakan Pancasila secara murni dan konsekuen, dan perjuangan pembangunan bangsa sebagai pengamalan Pancasila, tidak lagi sebagai narasi nyaring.

Perjuangan pro kerakyatan juga tidak lagi menjadi arus utama dinamika Partai Golkar. Begitu pula sekenario pembangunan jangka panjang berkelanjutan. Nihil Konsep.

Dalam catatan Gerakan Arus Bawah Pembaharuan Partai Golkar, pasca reformasi, narasi elit Golkar adalah politik traksaksional, berebut jatah menteri kabinet, tanpa mampu melahirkan ketokohan sendiri dalam kepemimpinan nasional.

Puncaknya adalah ketika sosok sentralnya, Ketua Umum Setya Novanto tidak lagi mampu melindungi dirinya dari tuntutan hukum oleh dugaan mega korupsi.

Citra sebagai partai elitis, tidak pro rakyat, dipenuhi perilaku korup, menjadi stigma yang kini melekat pada tubuh Golkar dalam pandangan masyarakat. Elektabilitas Partai Golkar menjadi tantangan serius pada saat ini.

Perilaku pragmatis itu menjadikan Golkar semakin dijauhi konstituen, dijauhi rakyat, yang dibuktikan tidak pernah lagi sebagai partai dengan suara mayoritas pasca kepemimpinan Akbar Tanjung.

Para elit Golkar tampaknya terlena dengan permainannya sendiri dalam perebutan posisi, dan melupakan bahwa era sekarang adalah era basis massa.

Tanpa penyejiwaan dengan suara batin masyarakat, sebuah partai akan ditinggalkan pemilihnya. Branding media dan pencitraan tidak akan selamanya manjur untuk meyakinkan publik, seiring tingkat kedewasaan publik yang semakin membaik.

Sebagaimana sering disampaikan Dr. Nurcholish Madjid pada tahun 2000-an, bahwa bangsa ini perlu sekitar 2 s.d 3 pemilu untuk bisa dewasa dan merdeka dalam menentukan pilihannya. Pada saat ini, fase transisi demokrasi itu telah terlewati, publik sudah cerdas politik untuk menentukan sikap, kepada siapa aspirasinya disalurkan.

Dan saat Golkar seperti sekarang ini, mutlak diperlukan sosok yang kapabilitasnya bisa memerankan diri sebagai rehabilitator.

Kemampuan tersebut akan bisa mengubah eksistensi partai Golkar dalam era basis massa menjadi semakin diterima masyarakat dan kembali memiliki peran penting dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Dan dalam catatan Gerakan Arus Bawah Pembaharuan Partai Golkar kemampuan (kapabilitas) itu melekat pada sosok Titiek Soeharto.