INDUSTRY co.id -Jakarta - HSBC Indonesia dan Putera Sampoerna Foundation (PSF) melalui Sampoerna University (SU) hari ini kembali menyelenggarakan Indonesia Economic and Financial Sector Outlook (IEFSO) 2018, dengan topik “Keeping Momentum for Productive Investment”.

Acara ini menghadirkan pembicara antara lain Wahyoe Soedarmono, Ekonom sekaligus Ketua Program Studi Manajemen dan Manajer Program Kerjasama HSBC-PSF di Fakultas Bisnis, Sampoerna University; Ali Setiawan (Managing Director & Head of Global Markets, HSBC Indonesia), Inka B. Yusgiantoro (Peneliti Eksekutif Senior, Otoritas Jasa Keuangan), serta Faisal Basri (Ekonom Senior).

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil sejak 2014 lalu terus berada di kisaran 5%. Konsumsi oleh sektor privat dan rumah tangga juga belum banyak mengalami perubahan sejak awal 2017. Faktor-faktor penyebabnya masih belum konklusif.  

“Walaupun demikian, kami memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai sebesar 5,17%-5,24% pada 2017, dan 5,3%-5,4% pada 2018 mendatang, jika inflasi di kisaran 3.0-4.0% dan suku bunga riil di level 10%”, kata Wahyoe Soedarmono, Ekonom, sekaligus Ketua Program Studi Manajemen dan Manajer Program Kerjasama HSBC-PSF di Fakultas Bisnis, Sampoerna University di Jakarta, Kamis (7/12/2017) 

Wahyoe juga menekankan bahwa 2018 masih akan menjadi tahun yang dibayangi ketidakpastian ekonomi global, meskipun  pertumbuhan ekonomi diprediksi meningkat. Hal ini kemudian dapat mendorong peningkatan defisit neraca transaksi berjalan, sehingga menyebabkan instabilitas makroekonomi, mengingat struktur modal asing yang masuk ke Indonesia masih didominasi investasi portofolio jangka pendek daripada investasi asing langsung (foreign direct investment). 

Selain itu, dari sisi domestik, pertumbuhan utang luar negeri dari pemerintah juga menunjukkan tren peningkatan. Pertumbuhan utang luar negeri pemerintah mencapai posisi tertinggi, yaitu 46% selama 2015-2017, disusul oleh utang luar negeri sektor swasta selain institusi keuangan (36%) di periode yang sama. 

Peningkatan utang luar negeri oleh pemerintah mempunyai dua implikasi penting. Di satu sisi, ruang fiskal akan meningkat, sehingga mendorong belanja pemerintah, misalnya untuk infrastruktur dan sektor produktif lainnya, sehingga mendorong investasi swasta dan pertumbuhan ekonomi (efek “crowding-in”). Namun di sisi lain, peningkatan utang luar negeri pemerintah dapat meningkatkan suku bunga, sehingga menghambat investasi sektor swasta (efek “crowding-out”). 

Wahyoe juga menekankan urgensi menjaga momentum investasi produktif agar efek “crowding-in” dapat lebih mendominasi seiring peningkatan utang luar negeri pemerintah.

“Paling tidak ada dua manfaat yang mampu dihasilkan dengan peningkatkan investasi produktif. Pertama, memperkuat tingkat tabungan masyarakat, sehinga dapat memperkuat stabilitas makroekonomi karena defisit neraca transaksi berjalan terkendali. Kedua, investasi produktif memperkuat lanskap untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang optimal, yaitu setidaknya di 5.9% untuk Indonesia berdasarkan hukum Okun”, ungkap Wahyoe.