INDUSTRY.co.id - Jakarta-Menurut Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani menilai pertumbuhan digital ekonomi memberikan dampak positif bagi pertumbuhan industri perhotelan di Indonesia.
"Digital ekonomi oke, kita mendukung penuh. Tapi harus ingat, digital itu adalah untuk meningkatkan produktivitas ekonomi kita, ekonomi bangsa kita. Kalau ada digital ekonomi lalu tidak menghasilkan nilai tambah yang maksimal untuk kita, terus gunanya untuk apa?," katanya dalam seminar The Hotel Week Indonesia di Jakarta Convention Center, Kamis (23/11/2017).
Hariyadi menilai industri perhotelan trennya semakin siginifikan, dan jika berbicara dari segi reservasi, pertumbuhannya sudah 15 hingga 20 persen sudah beralih ke online.
"Bahkan, ada hotel-hotel yang sampai sudah 90 persen reservasinya melalui online. Jadi, trennya sangat positif," sambungnya.
Tetapi, Hariyadi menyangkan begitu pesatnya dunia digital sehingga membuat Online Travel Agencies (OTA) asing atau travel online dianggap tidak menguntungkan bagi industri perhotelan.
Dan, menurutnya mereka yang berkecimpung di dunia OTA harus mempunyai badan usaha di Indonesia.
"Pertanyaannya adalah, transaksi yang begitu besar, jatuhnya kemana? kalau jatuhnya ke badan usaha tetap di Indonesia ya baguslah. artinya masuk ke negara, ya syukur-syukur perputaran dari ekspansinya di dalam negeri," sambungnya.
Dari segi transaksi, Ia menilai bahwa mereka tidak punya badan usaha di sini, dan OTA dianggap tidak mau bayar pajak. "Kita cuma terima bersih, karena mereka tidak punya badan usaha, akhirnya ambil komisi 15 hingga 30 persen," tegasnya.
Untuk itu, Hariyadipun sudah bicara dengan Dirjen Pajak dan OTA lokal untuk berbicara mengenai pajak terhadap OTA asing. "Prinsipnya, PHRI meminta melalui pemerintah, tolong dong diberesin. Kita cuma minta ikut aturan kita, aturan perpajakan kitam Jadi, dengan begitu kita juga lebih sehat dalam persaingan," tandas Hariyadi.