INDUSTRY.co.id -Bank BRI  akan terus berkomitmen menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR), dimana untuk tahun ini perseroan mendapatkan jatah untuk menyalurkan KUR sebesar Rp.71 Triliun.

Menurut Direktur Utama Bank BRI Suprajarto dari Januari hingga awal Oktober 2017, Bank BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp.53,8 Triliun kepada 2,9 juta debitur baru atau setara 75,8% dari target. Posisi saat ini sudah 40% dari Rp.53,8 Triliun atau sekitar Rp.21,5 Triliun tersalurkan ke sektor produktif. Ini sesuai arahan dari Presiden dimana agar KUR difokuskan ke sektor produktif.

"Kemampuan Bank BRI menyalurkan kredit hingga tumbuh yoy dua digit juga dibarengi dengan penyaluran kredit yang berkualitas. Ini terlihat dari indikator rasio kredit bermasalah yang relatif rendah. Hingga akhir kuartal III 2017, NPL Gross BRI tercatat sebesar 2,33% atau di bawah rata-rata NPL industri bulan Agustus 2017 sebesar 3%," kata dia di Jakarta, Kamis (26/10/2017).

Suprajarto menambahkan, Bank BRI juga turut meningkatkan cadangan kerugian atau NPL Coverage menjadi 198,2% dari sebelumnya sebesar 156,9% di akhir kuartal III 2016. “Nilai NPL Coverage tersebut saat ini kami anggap cukup ideal dan konservatif dengan mempertimbangkan kondisi makro saat ini.

Selain penyaluran kredit, kata dia, penghimpunan DPK Bank BRI juga mengalami pertumbuhan double digit secara yoy. Tercatat hingga akhir September 2017 DPK BRI tumbuh 10,9% menjadi Rp.770,6 Triliun. CASA masih mendominasi DPK BRI dengan komposisi sebesar 55,4%. Perseroan saat ini fokus untuk menghimpun dana murah dibandingkan dengan deposito dengan tujuan agar biaya dana semakin rendah. Saat ini biaya dana BRI tercatat 3,47% atau turun dibandingkan dengan biaya dana periode yang sama tahun lalu sebesar 3,89%. Harapannya, dengan biaya dana yang rendah maka BRI semakin leluasa untuk memberikan suku bunga pinjaman yang kompetitif kepada masyarakat. “Strategi penguatan CASA BRI ini sejalan dengan arah kebijakan perseroan dan transaction banking menjadi salah satu alat untuk meraup CASA,” ujar Suprajarto.

"Upaya BRI untuk mengembangkan bisnis transaction banking  tercermin dari kenaikan Fee Based Income. Tercatat, BRI mampu meraup FBI sebesar Rp.7,4 Triliun atau tumbuh 14,79% dibanding tahun lalu. Bank BRI sendiri saat ini terus berupaya meningkatkan pendapatan yang berasal dari non bunga. Beberapa strateginya yakni melalui digital banking, serta mengarahkan nasabah agar semakin terbiasa untuk melakukan transaksi melalui internet banking, mobile banking dan jaringan e-channel BRI," katanya.