INDUSTRY.co.id - Jakarta-Nasib akuisisi Minna Padi terhadap Bank Muamalat menjadi perhatian serius semua pemangku kepentingan terutama kalangan perbankan syariah, sukses atau tidaknya akan berdampak langsung ke industri syariah. Diharapkan akuisisi tersebut lancar sehingga Indonesia benar-benar negara yang amaan dan cukup kondusif bagi investor.

Para analis Pefindo memberikan gambaran yang cukup objektif terhadap rencana akuisisi tersebut yag senilai Rp4,5 triliun. Investor baru Bank Muamalat diharapkan sekuat investor yang terdahulu Islamic Development Bank (IDB). Diharapkan proses ini semuanya dapat menggairahkan perbankan syariah pada uumnya dan Bank Muamalat secara khususnya karena Bank Muamalat mempunya sejarah yang cukup panjang saat berdirinya di Indonesia kali pertama sebagai bank syariah.

“Jika akuisisi terjadi akan mendukung industri perbankan syariah, karena kita tahu beberapa belakangan industri syariah terpukul kualitas kredit terutama pada segmen komoditas dan perbankan syariah perlu mendapat perhatian,” kata analis Pefindo, Dyah Puspita  di Jakarta, Selasa (24/10/2017).

Ia akui akibat komoditas kurang bergairah, menyebabkan terjadinya  kredit macet di perbankan syariah.

Statistik Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan mencatat, akhir 2016, pembiayaan bermasalah gross mencapai 4,42 persen, sedangkan NPF net terjaga di level 2,17 persen. Dalam tiga tahun terakhir, NPF gross tertinggi terjadi pada 2014 sebesar 4,95 persen dengan net 3,38 persen. Setahun kemudian, rasio pembiayaan bermasalah membaik ke kisaran 4,84 persen (gross) dan 3,19 persen (net).

”Beberapa tahun terakhir komoditi kurang baik ke NPF bank syariah dan itu perlu mendapat perhatian,” katanya.

Danan Dito, analis Pefindo mengungkapkan, jika akuisisi gagal berdampak negatif terhadap performent Bank Muamalat. “Nantinya akan berpengaruh juga ke industri syariah, namun engak besar,” katanya.

Analis Pefindo yang lainnya, Hendro Utomo menjelaskan, akhir tahun akan dilihat siapa investor yang sebenarnya memegang peranan penting ke Bank Muamalat. Sebabnya kekuatan investor baru aan berdampak ke rating perusahaan tersebut.

Namun ia berharap, akuisisi akan berjalan mulus sehingga akan menaikan posisi Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio permodalan Bank Muamalat. Sampai saat ini posisi CAR bank ini di level 11,3%. “Jika gagal akuisisi bisa menjadi bahan perhatian pemerintah, nantinya level rating bank tersebut akan terus diturunkan jika tidak sesuai ekspektasi,” katanya.