INDUSTRY.co.id - Jakarta, Platform untuk industri digital dan manufaktur sangat diperlukan. Hal ini untuk efisiensi dan efektivitas bekerja serta mempermudah proses perbaikan atau servive. Selain itu, Platform industri digital dan manufaktur juga bisa mempermudah proses pendidikan vokasi.
Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto saat menerima kunjungan dari PT Tata Consultancy Service, Bapak Venguswamay Ramaswamy dan Bhavian Zaveri di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta (29/9/2017).
Sebelumnya, Airlangga mengatakan, pengembangan sektor manufaktur dengan platform digital menjadi penting seiring kemajuan teknologi terkini dan berjalannnya era Industry 4.0. Apalagi, pemerintah menargetkan Indonesia menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di ASEAN pada tahun 2020.
"Kebijakan industri yang tepat merupakan kunci kesuksesan bagi pembangunan ekonomi suatu negara. Karenanya, kami fokus memformulasikan dan terus berupaya menciptakan langkah srategis untuk menghadapi tantangan dan peluang saat ini," kata Airlangga.
Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi digital karena dari jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa, sekitar 93,4 juta orang di antaranya adalah pengguna internet. "Peluang ini perlu direspons cepat oleh pelaku usaha nasional untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan pendapatan," terangnya.
Merujuk data dari lembaga kajian ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, nilai perdagangan elektronik di dalam negeri pada 2016 mencapai USD 24,6 miliar atau setara Rp319,8 triliun (dengan asumsi kurs sebesar Rp13.000 per dolar AS). Potensi ini bisa membuat Indonesia menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.
Sementara itu, kajian yang dilakukan oleh Google dan Temasek juga menunjukkan tren serupa, bahwa pasar online di Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh rata-rata sebesar 32 persen per tahun selama 10 tahun ke depan dan akan mencapai angka transaksi sebesar USD88 miliar pada tahun 2025.