INDUSTRY.co.id - Jakarta-Penurunan rata-rata suku bunga simpanan perbankan 22 bps berdampak positif terhadap cost of fund atau beban biaya perbankan kedepannya. Namun jika  suku bunga simpanan digunting perbankan, berdampak negative bagi keberlangsugan dana pihak ketiga terutama perbankan yang komposisi depositonya mayoritas ketimbang dana murah atau tabungan biasa.

“Sebetulnya suku bunga deposito turun itu sesuai dengan BI 7 Day Reserve Repo Rate (RRR), LPS lihat sinyal tren suku bunga simpanan turun yang LPS memper cepat proses penurunan tersebut,”kata Halim Alamsyah, Ketua Dewan Komisioner LPS di Jakarta, Kamis (15/9/2017).

Keuntungan suku bunga simpanan rendah, lanjut Halim dapat memperbaiki struktur cost of fund perbankan, sehingga perbankan tidak lagi dibuat pusing beban biaya bunga untuk simpanan terlalu tinggi, yang imbasnya jika bunga dana tinggi berpengaruh ke bunga kredit yang juga mahal.

Meskipun diketahui bunga kredit sudah ada yang single digit,namun belum semua segmen turun karena masih banyak segmen lain yang bunga kreditnya double digit.

Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan mengakui apabila suku bunga simpanan turun, maka peluang ini akan dinikmati oleh pasar modal. Rata-rata suku bunga deposito kisran 6,5%.

Peluang pasar modal menampung peralihan dana deposito, jika dilihat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) untuk jangka panjang saja mencapai 8% sedangkan yang jangka pendek 5,6%.

“Kalau deposito di perbankan Indonesia turun, memang mau parkir di mana? Bank global juga sudah turun bunga depositonya. Maka bisa jadi akan beralih ke pasar modal,” katanya.