INDUSTRY.co.id - BALIKPAPAN – Proyek pengembangan Kilang Balikpapan melalui Refinery Development Master Plan (RDMP) memasuki tahap akhir dengan progres mencapai 99%. Pemerintah berharap pengoperasian penuh kilang berinvestasi US$ 7,4 miliar tersebut dapat memperkuat pasokan bahan bakar minyak (BBM) domestik sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, sebagian besar pekerjaan RDMP Balikpapan telah rampung. Saat ini, penyelesaian proyek tinggal berfokus pada sejumlah penyesuaian teknis dan pengujian peralatan sebelum kilang beroperasi secara optimal.
"Untuk RDMP keseluruhan sudah 99%, sudah selesai. Cuman apa ya, perintil-perintilnya lah, biasalah barang baru kan. Barang baru itu kan ada karet-karetnya, kira-kira begitulah. Tapi insyaallah kita akan selesaikan," tutur Bahlil saat meninjau Kilang Balikpapan, Kamis (22/10).
Proyek strategis nasional ini memiliki nilai investasi sekitar Rp 126 triliun. Setelah beroperasi penuh, RDMP Balikpapan diproyeksikan mampu memenuhi 22% hingga 25% kebutuhan BBM nasional. Tambahan kapasitas tersebut diharapkan meningkatkan kemampuan pengolahan minyak di dalam negeri dan mengurangi kebutuhan pasokan BBM dari luar negeri.
Besarnya kontribusi yang ditargetkan membuat penyelesaian RDMP menjadi salah satu agenda penting pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi. Namun, manfaat proyek terhadap pengurangan impor baru dapat dioptimalkan setelah seluruh fasilitas siap beroperasi dan menghasilkan produk sesuai kebutuhan pasar domestik.
Di tengah proses penyelesaian kilang, pemerintah memastikan pasokan BBM nasional masih berada dalam kondisi aman. Bahlil menyebut stok Pertalite mencukupi kebutuhan selama 16 hingga 18 hari, sedangkan BBM nonsubsidi dengan kadar oktan RON 92, RON 95, dan RON 98 memiliki ketahanan stok di atas 20 hari.
Sementara itu, pasokan solar disebut tidak menghadapi kendala karena kebutuhan nasional telah terpenuhi tanpa impor. Untuk wilayah Kalimantan, ketersediaan BBM juga relatif sejalan dengan rata-rata nasional.
Meski stok dinyatakan mencukupi, pemerintah tetap meminta Pertamina menjaga kelancaran distribusi, khususnya untuk BBM bersubsidi. Pengawasan penyaluran akan diperkuat bersama pemerintah daerah dan aparat penegak hukum, termasuk TNI dan Polri, guna memastikan BBM subsidi diterima masyarakat yang berhak serta mencegah praktik penimbunan.
Tantangan logistik menjadi salah satu persoalan yang masih perlu diantisipasi. Bahlil mengungkapkan, fenomena El Nino memicu pendangkalan Sungai Kapuas di Kalimantan Barat sehingga sempat mengganggu jalur pengiriman BBM.
Untuk menjaga pasokan tetap berjalan, Pertamina menggunakan kapal sebagai tempat penyimpanan terapung atau floating storage. Dari fasilitas tersebut, BBM kemudian disalurkan ke wilayah tujuan melalui jalur darat.
Gangguan distribusi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan energi tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan stok dan kapasitas produksi. Infrastruktur logistik serta efektivitas penyaluran juga menentukan kemampuan pemerintah memenuhi kebutuhan energi masyarakat di berbagai wilayah.
Dengan nilai investasi mencapai US$ 7,4 miliar, RDMP Balikpapan menjadi salah satu investasi terbesar BUMN dalam satu lokasi. Pemerintah berharap proyek ini menjadi penopang peningkatan kapasitas pengolahan domestik dan mendukung agenda kemandirian energi yang sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Ke depan, efektivitas RDMP Balikpapan akan tercermin dari kemampuan kilang beroperasi secara optimal, kontribusinya terhadap pemenuhan kebutuhan BBM nasional, serta sejauh mana tambahan kapasitas tersebut mampu menekan kebutuhan impor secara berkelanjutan.