INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) DKI Jakarta dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi menutup program digitalisasi pasar inklusif sekaligus membuka Jakarta Financial Festival 2026.
Acara yang berlangsung di Blok M Square, Jakarta Selatan, Jumat (23/10/2026), ini menjadi momentum untuk memperkuat inklusi keuangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Program digitalisasi pasar yang telah berjalan selama lebih dari satu tahun tersebut mencatat sejumlah capaian, mulai dari menjangkau 93 pasar rakyat hingga memfasilitasi pembukaan hampir 1.146 rekening bagi para pedagang.
Inisiatif ini juga mendukung akses pembiayaan bagi 99 debitur, menghadirkan 139 agen laku pandai, serta menghubungkan 1.283 merchant dengan layanan pembayaran QRIS.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam mendorong transformasi pasar rakyat melalui perluasan akses terhadap layanan keuangan formal.
Menurut Rano, keberhasilan program tersebut menunjukkan antusiasme pelaku usaha terhadap layanan keuangan yang dapat membantu pengelolaan bisnis sekaligus membuka peluang pembiayaan.
Meski program digitalisasi pasar secara resmi ditutup, Rano menegaskan bahwa upaya memperluas inklusi keuangan harus terus dilanjutkan secara berkala. Pendampingan dan pemberdayaan juga diperlukan agar manfaat layanan keuangan dapat dirasakan pedagang secara berkelanjutan.
Ia berharap akses keuangan yang semakin luas dapat membantu pedagang mengelola usaha dengan lebih baik, meningkatkan daya saing, serta memperbesar peluang untuk mengembangkan bisnis.
Kepala OJK Jabodebek Edwin Nurhadi mengungkapkan bahwa DKI Jakarta saat ini menempati peringkat tertinggi di Indonesia untuk indeks literasi dan inklusi keuangan.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam acara tersebut, indeks literasi keuangan DKI Jakarta mencapai 84,01 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan berada di angka 99,74 persen. Kedua capaian tersebut berada di atas rata-rata nasional.
Namun, tingginya tingkat literasi dan inklusi keuangan tidak membuat masyarakat Jakarta sepenuhnya terbebas dari risiko aktivitas keuangan ilegal.
Edwin mengingatkan bahwa Jakarta masih menjadi wilayah dengan laporan aktivitas keuangan ilegal dan sengketa tertinggi kedua. Karena itu, edukasi mengenai kewaspadaan terhadap investasi ilegal perlu terus diperkuat.
Masyarakat juga didorong menerapkan prinsip legal dan logis sebelum menggunakan produk atau layanan keuangan. Dengan demikian, kemudahan akses keuangan dapat diimbangi dengan pemahaman mengenai risiko serta kemampuan mengambil keputusan finansial secara tepat.
Direktur Utama Bank Jakarta sekaligus Ketua FKIJK DKI Jakarta, Agus H. Widodo, menegaskan bahwa perkembangan industri jasa keuangan di ibu kota harus memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat.
Menurut Agus, transformasi Jakarta menjadi kota global perlu diiringi dengan penguatan sektor keuangan yang mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ia menambahkan, tantangan ke depan bukan hanya memperluas akses keuangan, melainkan juga memastikan masyarakat mampu memanfaatkan layanan tersebut secara bijak, produktif, dan aman.
Pesan tersebut sejalan dengan tema Jakarta Financial Festival 2026, yaitu "Inklusi, Mengakselerasi Ekonomi Tumbuh". Tema ini menekankan pentingnya inklusi keuangan sebagai salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat secara luas.
Jakarta Financial Festival 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara Pemprov DKI Jakarta, Bank Jakarta, OJK, Bank Indonesia, dan Perumda Pasar Jaya dalam meningkatkan literasi serta inklusi keuangan.