INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Pasokan gas industri kembali menjadi sorotan. Pelaku industri baja nasional mengeluhkan keterbatasan pasokan di tengah gempuran baja impor.

Ketua Umum IISIA Willgo Zainar mengatakan utilisasi industri baja nasional masih rendah dan masih bisa ditingkatkan. Saat ini utilisasi baru di kisaran 43-57 persen.

"Kami tadi laporkan bahwa utilisasi industri baja kita ini masih rendah, kisaran 43-57 persen. Ini bisa ditingkatkan lagi. Tentunya kami berharap industri kita bisa berdaya saing. Saat ini gempuran baja impor itu luar biasa. Tidak terbatas pada produk China, tapi juga produk-produk negara lainnya," kata Willgo dalam keterangannya usai audiensi di Kemenperin, pekan lalu di Jakarta.

IISIA mencatat kelebihan pasokan baja dunia mencapai 640 juta ton, dengan 120 juta ton di antaranya berasal dari China. Tekanan semakin besar karena Amerika Serikat dan Uni Eropa membatasi masuknya baja China, sehingga Indonesia berpotensi menjadi sasaran limpahan.

Wakil Ketua Umum IISIA Ismail Mandry kemudian mengeluhkan kuota Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang diperoleh industri hanya bisa digunakan 60 persen karena pembatasan lainnya.

"Mengenai HGBT, yaitu harga gas, sekarang kami mendapat kuota tapi hanya bisa kita gunakan 60 persen saja, kemudian dibatasi dengan kuota-kuota lainnya. Sehingga tidak bisa kita gunakan gas itu sebagai energi menggerakkan industri baja secara penuh. Dan ini akan menyulitkan kami pada waktu-waktu mendatang," ungkap Ismail.

Ismail menyarankan untuk menanyakan langsung kepada PGN terkait penyebab pembatasan tersebut. "Katanya gasnya kurang dan seterusnya," ujarnya.

Menurut Ismail, kesenjangan kapasitas sangat timpang. "Bisa kalian bayangkan China bisa produksi 1,2 miliar ton. Kita cuma 18 juta. Kalau kita memberi kelonggaran, tutup semua industri kita," kata Ismail.

IISIA pun meminta pembatasan impor, kecuali untuk produk yang memang tidak bisa diproduksi di dalam negeri.

Menanggapi keluhan tersebut, Menteri Perindustrian M Sarmuji mengatakan proteksi memang dibutuhkan untuk industri strategis seperti baja, tetapi tidak cukup hanya dengan proteksi.

"Kalau tentang industri baja, isunya daya saing. Gempuran baja dari luar negeri luar biasa, harganya lebih murah. Tentu harus ada proteksi untuk industri strategi seperti baja," kata Sarmuji.

"Proteksi saja tak cukup. Sehebat apa pun kita memproteksi, tentu ada jangka waktunya. Kalau diimbangi dengan peningkatan daya saing, tentu industri kita akan lebih resilience ke depan," tegasnya.

Sarmuji menambahkan, pemerintah akan mencari formula peningkatan daya saing bersama pelaku industri.

"Proteksi pasti pembatasan, tarif maupun nontarif. Tapi kita mau lebih dari itu, tidak hanya proteksi. Tapi juga peningkatan daya saing. Kita akan sama-sama cari formula, kita akan ketemu lagi merumuskan peningkatan daya saing industri baja," ujarnya.

Audiensi tersebut juga dihadiri Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Setia Diarta.