INDUSTRY.co.id - Jakarta - Ketergantungan Indonesia terhadap impor semikonduktor atau chip menjadi tantangan serius di tengah persaingan industri teknologi global. Ketika produsen chip dunia semakin memprioritaskan kebutuhan pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pasokan untuk industri elektronik dan otomotif ikut tertekan. Kondisi ini memperkuat urgensi Indonesia membangun ekosistem semikonduktor nasional.
Mantan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) telah mendorong pengembangan industri semikonduktor melalui strategi bertahap, dengan menjadikan desain chip dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai pintu masuk utama Indonesia ke rantai pasok global.
Semikonduktor kini menjadi komponen strategis bagi berbagai sektor, mulai dari otomotif, pertahanan, dirgantara, telekomunikasi, energi hingga industri AI. Ketergantungan terhadap chip impor membuat keberlangsungan produksi manufaktur nasional rentan terhadap gangguan pasokan dan lonjakan harga di pasar global.
Tekanan tersebut semakin besar seiring meningkatnya kebutuhan chip untuk infrastruktur AI. Produsen semikonduktor cenderung memprioritaskan produk bernilai tinggi untuk pusat data, sehingga pasokan bagi perangkat elektronik konsumen dan otomotif ikut tertekan.
Perubahan prioritas produksi ini menunjukkan bahwa penguasaan teknologi semikonduktor bukan sekadar persoalan industri, melainkan juga berkaitan dengan ketahanan ekonomi dan posisi strategis suatu negara.
Menyadari tantangan tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) di bawah kepemimpinan Agus Gumiwang mulai menjajaki peluang pengembangan industri semikonduktor Indonesia melalui ajang Hannover Messe 2022.
Dari penjajakan tersebut, pemerintah memetakan segmen industri yang paling realistis untuk dikembangkan di Indonesia. Strategi yang dipilih adalah membangun kemampuan desain chip dan menyiapkan talenta lokal sebelum melangkah lebih jauh ke tahapan industri yang membutuhkan investasi dan teknologi lebih kompleks.
Dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR pada Januari 2026, AGK menegaskan bahwa pengembangan industri semikonduktor harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.
"Fokus awal kami adalah menyiapkan SDM yang mampu mendesain chip," ujar AGK.
Pilihan tersebut mempertimbangkan bahwa Indonesia belum memiliki kapasitas fabrikasi wafer semikonduktor. Sementara itu, Indonesia telah memiliki fasilitas perakitan dan pengujian semikonduktor di Batam serta perusahaan desain sirkuit terpadu yang telah masuk dalam rantai pasok global.
Melalui pendekatan tersebut, Indonesia diharapkan dapat membangun kemampuan teknologi bernilai tambah tinggi tanpa harus langsung bersaing dalam pembangunan fasilitas fabrikasi chip yang membutuhkan modal sangat besar.
Peta jalan semikonduktor yang disusun Kemenperin mencakup pengembangan material, desain, fabrikasi, serta perakitan, pengujian, dan pengemasan. Desain chip dan pengembangan talenta ditempatkan sebagai penggerak awal untuk memperkuat fondasi industri nasional.
Salah satu langkah konkret dalam strategi tersebut adalah pembentukan Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC) pada 2023. Inisiatif Kemenperin ini melibatkan PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) dan pakar desain chip dari 13 perguruan tinggi di Indonesia.
ICDEC dibentuk sebagai organisasi nirlaba yang mengandalkan kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan mitra global, bukan bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Saat ini, ICDEC bermitra dengan 16 perguruan tinggi dan tujuh pelaku industri untuk memperkuat kemampuan desain chip dan menyiapkan tenaga ahli semikonduktor.
Pada Januari 2026, AGK meresmikan fasilitas ICDEC di ITB Innovation Park, Bandung, bersamaan dengan penyelenggaraan Indonesia Semiconductor Summit 2026.
Pengembangan kompetensi juga diperkuat melalui kerja sama internasional. Pada April 2026, ICDEC menandatangani kerja sama dan surat minat pengembangan SDM dengan Intel, National Taiwan Normal University, dan President University.
Sebelumnya, pelatihan desain chip bersama Polytron, IMEC Belgia, dan Cadence telah dimulai pada Oktober 2024 di Kudus. Kemenperin juga menandatangani nota kesepahaman dengan Apple yang memuat komitmen riset dan pengembangan di Indonesia melalui ICDEC.
Rangkaian kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperluas akses terhadap pengetahuan, teknologi, dan pengalaman industri semikonduktor global.
Ketua ICDEC Trio Adiono menilai, pengembangan desain chip merupakan titik masuk strategis bagi Indonesia untuk membangun posisi dalam rantai pasok semikonduktor global.
Menurutnya, riset dan pendidikan yang dilakukan secara konsisten dapat membantu Indonesia menghasilkan pengetahuan dan talenta sendiri, bukan sekadar menjadi pasar bagi produk teknologi dari luar negeri.
Di tengah meningkatnya kebutuhan chip untuk AI, kemampuan merancang semikonduktor berpotensi membuka peluang bagi Indonesia untuk terlibat dalam pengembangan produk dan teknologi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Meski demikian, pembangunan ekosistem semikonduktor tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Indonesia masih perlu memperkuat kompetensi SDM, riset, kolaborasi industri, dan akses terhadap teknologi global agar mampu meningkatkan perannya dalam rantai pasok internasional.
Strategi yang dimulai melalui desain chip diharapkan menjadi fondasi bagi pengembangan tahapan industri semikonduktor berikutnya.
Pada akhirnya, penguasaan desain chip bukan hanya soal menciptakan produk teknologi buatan dalam negeri. Langkah tersebut juga menjadi upaya memperkuat ketahanan industri nasional, mengurangi kerentanan terhadap gangguan pasokan global, dan meningkatkan daya saing Indonesia di tengah persaingan ekonomi berbasis teknologi.