INDUSTRY.co.id - Bogor - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menantang PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (Cimory) untuk mengembangkan produk olahan susu baru, termasuk keju bercita rasa khas Indonesia dan es krim.
Tantangan tersebut disampaikan Sarmuji saat mengunjungi pabrik Cimory di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026). Langkah ini diharapkan dapat mendorong inovasi produk sekaligus meningkatkan nilai tambah industri pengolahan susu nasional.
“Kalau bisa dibuat keju ala Indonesia, mungkin akan lebih diminati dan pasarnya sangat terbuka. Begitu juga dengan es krim dan berbagai produk turunan susu lainnya,” kata Sarmuji.
Ia berharap pengembangan produk baru tersebut dapat direalisasikan dalam satu tahun ke depan. Menurutnya, inovasi yang sesuai dengan selera konsumen Indonesia berpotensi memperluas pasar industri olahan susu.
Selain mendorong diversifikasi produk, Sarmuji menyoroti masih tingginya ketergantungan industri pengolahan susu terhadap bahan baku impor.
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu nasional pada 2025 mencapai sekitar 4,95 juta ton setara susu segar. Sekitar 80 persen kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor.
Sarmuji mengapresiasi kontribusi Cimory dalam menyerap susu segar dari peternak dalam negeri. Sepanjang 2025, perusahaan tersebut bermitra dengan 18.458 peternak sapi perah dan menyerap sekitar 26,42 juta liter susu segar lokal.
Namun, peningkatan penggunaan bahan baku lokal masih menghadapi kendala keterbatasan pasokan susu segar nasional.
Karena itu, Sarmuji menilai penguatan industri pengolahan susu perlu diikuti peningkatan populasi sapi perah, produktivitas peternak, dan kualitas susu segar dalam negeri.
Pemerintah juga mendorong kemitraan industri dengan koperasi dan peternak lokal melalui dukungan teknologi pendinginan serta digitalisasi tempat penampungan susu.
Di sisi lain, Sarmuji menegaskan pemerintah akan memberikan kelonggaran impor untuk bahan baku yang belum dapat dipenuhi dari dalam negeri. Namun, bahan baku yang sudah mampu diproduksi di Indonesia tetap harus diprioritaskan.
“Kita ingin industri pengolahan susu nasional semakin kuat, inovatif, dan mampu meningkatkan penggunaan bahan baku dalam negeri,” ujarnya.
Direktur Manufacturing Cimory Pamungkas Bayu Triprasetyo mengatakan, perusahaan menyambut positif tantangan pemerintah untuk mengembangkan produk turunan susu.
Menurutnya, inovasi merupakan bagian penting dari strategi pengembangan bisnis Cimory, sehingga perusahaan akan mengkaji peluang produksi berbagai produk turunan susu yang sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia.
“Cimory telah melakukan banyak inovasi dan tentunya tantangan untuk mengembangkan produk baru akan kami jalankan. Kami tidak akan bergerak hanya pada produk susu cair, tetapi juga akan meninjau berbagai produk turunan susu lainnya yang berpotensi dikembangkan di Indonesia,” ujar Pamungkas.
Terkait penggunaan bahan baku lokal, Pamungkas menjelaskan bahwa saat ini sekitar 20–30 persen kebutuhan bahan baku susu Cimory dipenuhi dari susu segar dalam negeri, yang dipasok peternak di Jawa Barat dan Jawa Timur.
“Kami menyerap sekitar 20–30 persen dari total kebutuhan susu. Penyerapan ini sudah cukup maksimal karena pasokan susu segar di Indonesia masih sangat terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan lainnya, kami masih menggunakan susu bubuk impor,” jelasnya.
Pamungkas menambahkan, kebutuhan susu segar untuk produksi Cimory mencapai sekitar 1.000 ton per bulan. Oleh karena itu, peningkatan produksi susu segar nasional menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangan industri pengolahan susu.