Highlights
- LPG bersubsidi 3 kg tetap Rp19.000/tabung di pangkalan resmi, ESDM pastikan tidak naik hingga akhir 2026
- Bright Gas 5,5 kg Rp107.000 dan 12 kg Rp230.000/tabung, belum ada penyesuaian harga baru
- Henry Hub jatuh ke US$2,79/MMBtu, terendah dalam sebulan karena cuaca ringan dan sinyal Super El Niño yang melemah
- JKM Asia koreksi ke US$29,63/MMBtu setelah memecahkan rekor tertinggi 12 bulan di US$30,09 pada sesi sebelumnya
- TTF Eropa turun ke €86,65/MWh, melanjutkan koreksi dari level tertinggi sejak Desember 2022
- Aramco CP Oktober tetap berlaku: propana US$680/MT dan butana US$730/MT, CP November belum diumumkan
Daftar Isi: Harga LPG Indonesia | Bright Gas | Per Wilayah | Henry Hub | TTF & JKM | Aramco CP | Faktor Harga | FAQ
Harga LPG Subsidi Hari Ini 22 Oktober 2026
Harga LPG 3 kg hari ini, Kamis (22/10/2026), tetap tidak mengalami perubahan. Kementerian ESDM memastikan harga LPG bersubsidi tabung 3 kg tidak naik hingga akhir 2026. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga menyampaikan stok LPG bersubsidi nasional masih terjaga di atas standar minimum, sejalan dengan komitmen pemerintah menjaga stabilitas harga energi bersubsidi di tengah gejolak harga energi global yang masih berlangsung.
| Jenis LPG | Harga di Pangkalan | Harga di Pengecer | Keterangan |
|---|---|---|---|
| LPG 3 kg (Subsidi) | Rp19.000 | Rp22.000 | Tetap (HET) |
Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG 3 kg di pangkalan resmi Pertamina tetap Rp19.000 per tabung. Di tingkat pengecer, harga mencapai Rp22.000 per tabung sudah termasuk ongkos kirim. Pemerintah mengimbau masyarakat membeli di pangkalan resmi untuk mendapatkan harga sesuai HET dan jaminan takaran. LPG bersubsidi tersedia di lebih dari 259.000 pangkalan resmi Pertamina seluruh Indonesia.
Harga LPG Non-Subsidi (Bright Gas)
PT Pertamina Patra Niaga belum melakukan penyesuaian harga Bright Gas baru. Harga yang berlaku saat ini merupakan hasil penyesuaian terakhir yang berlaku sejak awal Oktober 2026. Berikut harga agen yang berlaku untuk wilayah Pulau Jawa:
| Produk | Harga per 5 Oktober | Harga per 22 Oktober | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Bright Gas 5,5 kg | Rp107.000 | Rp107.000 | Tidak berubah |
| Bright Gas 12 kg | Rp230.000 | Rp230.000 | Tidak berubah |
Harga di atas merupakan Harga Jual Agen Bright Gas untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, dan NTB. Harga di tingkat pangkalan biasanya lebih mahal Rp15.000-20.000 per tabung.
Harga Bright Gas per Wilayah Indonesia
Harga Bright Gas bervariasi di setiap wilayah karena faktor ongkos distribusi. Berikut rincian harga agen per Oktober 2026:
| Wilayah | Bright Gas 5,5 kg | Bright Gas 12 kg |
|---|---|---|
| Jawa, Bali, NTB | Rp107.000 | Rp230.000 |
| Sumatera, Kalimantan | Rp111.000 | Rp232.000 |
| Sulawesi, Maluku | Rp100.000 | Rp209.000 |
| Papua | Rp124.000 | Rp267.000 |
| Kepulauan Riau | Rp134.000 | Rp287.000 |
Kepulauan Riau menjadi wilayah termahal untuk Bright Gas karena biaya distribusi yang tinggi dan status Free Trade Zone. Sebaliknya, Sulawesi dan Maluku justru lebih murah dari Jawa karena faktor subsidi distribusi regional.
Harga Gas Alam Dunia: Henry Hub
Henry Hub, benchmark gas alam untuk pasar Amerika Utara, jatuh ke level US$2,79 per MMBtu pada perdagangan Rabu (21/10/2026), melemah 5,86% dalam sehari dan menyentuh level terendah dalam sebulan. Penurunan dipicu cuaca ringan (mild weather) yang terus bertahan di Amerika Serikat hingga akhir Oktober dan melemahnya ekspektasi fenomena Super El Niño yang sebelumnya diperkirakan memperkuat permintaan musim dingin. Keduanya menekan permintaan gas untuk pemanas maupun pendinginan. Secara bulanan harga turun 5,92%, sementara secara tahunan turun 19,15% menurut data CFD TradingEconomics per 21 Oktober 2026.
| Indikator | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| Henry Hub (21 Oktober) | US$2,79/MMBtu | Terendah dalam sebulan |
| Perubahan Harian | -US$0,17 | -5,86% |
| Proyeksi EIA 2026 | US$3,67/MMBtu | Rata-rata tahunan |
Faktor pendukung justru muncul dari sisi ekspor: rata-rata aliran gas ke sembilan terminal ekspor LNG utama AS naik ke 18,2 bcfd sepanjang Oktober dari 17,9 bcfd pada September. Namun produksi gas Lower 48 masih melimpah di 111,4 bcfd bulan ini, meski turun dari rekor 113,3 bcfd pada Agustus-September. Surplus penyimpanan juga menyusut: inventaris per 9 Oktober berada 3,9% di bawah level setahun sebelumnya dan hanya 1,3% di atas rata-rata lima tahun. EIA tetap memproyeksikan rata-rata harga Henry Hub 2026 di US$3,67/MMBtu, sementara model makro Trading Economics memperkirakan harga berada di sekitar US$3,28 per MMBtu pada akhir kuartal ini. Pelaku pasar kini menunggu data inventaris mingguan EIA pekan ini untuk arah pergerakan selanjutnya.
TTF Eropa dan JKM Asia
Title Transfer Facility (TTF) di Belanda turun ke level €86,65 per MWh per 20 Oktober 2026, melemah 1,23% dan melanjutkan koreksi dari level €88,93 yang pada 18 Oktober menjadi yang tertinggi sejak Desember 2022. Sementara itu, Japan Korea Marker (JKM) untuk pasar Asia koreksi ke US$29,63 per MMBtu pada penilaian 21 Oktober 2026, turun 1,53% setelah dua sesi berturut-turut bertahan di rekor tertinggi 12 bulan US$30,09. Meski koreksi, JKM masih melonjak 12,00% dalam sepekan terakhir dan lebih dari 163% dibanding setahun lalu, karena pembeli LNG di Jepang, Korea Selatan, dan China tetap berlomba mengamankan kargo menjelang musim dingin.
| Benchmark Gas Alam | Harga | Perubahan | Kawasan |
|---|---|---|---|
| Henry Hub | US$2,79/MMBtu | -5,86% | Amerika Utara |
| TTF | €86,65/MWh | -1,23% | Eropa (Belanda) |
| JKM | US$29,63/MMBtu | -1,53% | Asia (Jepang-Korea) |
Meski koreksi, TTF tetap berada di rentang tinggi €70,51-88,93 per MWh selama 30 hari terakhir dengan rata-rata €78,58 per MWh, dan level €88,93 pada 18 Oktober tetap menjadi yang tertinggi sejak Desember 2022. Di Asia, JKM bertahan jauh di atas level Eropa: selisih JKM-TTF tercatat sekitar €5,85 per MWh setara, menandakan Asia tetap membayar premium tertinggi untuk kargo spot. Katalis utamanya tetap sama: kompetisi LNG antara Eropa dan Asia untuk memperebutkan kargo yang sama di tengah pasokan global yang ketat dan level penyimpanan gas Eropa yang lebih rendah dari rata-rata lima tahun. Data CFD TradingEconomics juga menempatkan TTF di kisaran €86 per MWh, sejalan dengan penilaian EnergyRiskIQ.
Harga LPG Internasional: Saudi Aramco CP
Saudi Aramco menetapkan Contract Price (CP) untuk Oktober 2026 lebih tinggi dari bulan sebelumnya, mencerminkan permintaan kuat dari sektor petrokimia Asia dan kenaikan harga minyak mentah. CP November 2026 belum diumumkan dan diperkirakan akan dirilis akhir Oktober 2026.
| Produk | CP September 2026 | CP Oktober 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Propana (C3) | US$625/MT | US$680/MT | +US$55 (+8,8%) |
| Butana (C4) | US$660/MT | US$730/MT | +US$70 (+10,6%) |
Kenaikan CP Oktober didorong oleh permintaan kuat dari sektor petrokimia Asia, terutama China dan Korea Selatan, serta kenaikan harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan pricing LPG. Butana naik lebih tinggi (+10,6%) dibanding propana (+8,8%) karena permintaan dari sektor gasoline blending yang meningkat menjelang akhir tahun. Dengan harga minyak mentah Brent yang berada di sekitar US$110,00 per barel, pasar bersiap menghadapi potensi kenaikan CP November yang akan diumumkan akhir Oktober.
Faktor yang Mempengaruhi Harga Gas Alam
Beberapa faktor utama yang menggerakkan harga gas alam global minggu ini:
- Permintaan musim dingin Asia: Pembeli LNG Jepang, Korea Selatan, dan China masih agresif mengamankan kargo menjelang musim dingin. JKM memang koreksi tipis ke US$29,63 per MMBtu, tetapi tetap 12,00% lebih tinggi dari pekan lalu dan bertahan di rekor tertinggi 12 bulan US$30,09 yang dibuat pekan ini.
- Musim dingin belahan bumi utara: Level penyimpanan gas Eropa yang lebih rendah dari rata-rata lima tahun menjaga harga TTF di kisaran €86-89 per MWh setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak Desember 2022. Cuaca ekstrem tetap menjadi risiko utama pasar.
- Ketegangan Selat Hormuz: Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mengancam jalur pengiriman LNG, mendorong premium risiko pada harga spot Asia dan menahan harga minyak mentah Brent di sekitar US$110,00 per barel.
- Cuaca hangat, El Niño, dan shale gas AS: Prakiraan suhu ringan hingga akhir Oktober dan melemahnya sinyal Super El Niño menekan permintaan gas Amerika Serikat, sementara produksi shale gas yang melimpah di 111,4 bcfd mendorong Henry Hub ke terendah dalam sebulan di US$2,79.
- Kebijakan energi Indonesia: Pemerintah tetap mempertahankan subsidi LPG 3 kg melalui APBN dan memastikan stok aman di atas standar minimum nasional, menjaga harga konsumen tetap terkendali meski harga internasional naik.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Harga LPG dan Gas Alam
Mengapa harga LPG subsidi 3 kg tidak pernah naik?
Harga LPG 3 kg disubsidi pemerintah melalui APBN dan penyaluran dijamin oleh Pertamina. Meski harga LPG internasional (Aramco CP) naik signifikan, harga di pangkalan tetap Rp19.000 karena perbedaan harga ditanggung oleh negara. Kementerian ESDM memastikan subsidi ini berlanjut hingga akhir 2026 dengan stok yang aman.
Mengapa harga Bright Gas tetap sama di Oktober?
Pertamina Patra Niaga belum melakukan penyesuaian harga Bright Gas setelah penyesuaian terakhir yang berlaku sejak awal Oktober 2026. Meski Aramco CP naik, dampaknya belum diteruskan ke harga ritel karena Pertamina masih menyerap kenaikan dari margin internal.
Mengapa JKM Asia koreksi meski masih sangat mahal?
JKM turun 1,53% ke US$29,63/MMBtu setelah dua sesi bertahan di rekor tertinggi 12 bulan US$30,09. Koreksi wajar terjadi setelah reli tajam, namun level ini masih 12,00% lebih tinggi dari pekan lalu dan lebih dari 163% dibanding setahun lalu. Pembeli LNG di Jepang, Korea Selatan, dan China tetap agresif mencari kargo menjelang musim dingin, sementara Eropa juga membutuhkan kargo tambahan.
Apa bedanya Henry Hub, TTF, dan JKM?
Henry Hub adalah benchmark gas alam Amerika Utara, TTF untuk Eropa, dan JKM untuk Asia. Harga berbeda karena perbedaan pasokan, permintaan, dan biaya pengiriman LNG antar kawasan. Henry Hub lebih murah karena AS memiliki produksi shale gas yang melimpah, sementara Asia membayar premium tertinggi untuk kargo spot.
Apakah musim dingin 2026 akan membuat harga gas naik tajam?
Tergantung cuaca. Jika musim dingin lebih dingin dari normal, harga gas bisa naik 30-50%. Level penyimpanan Eropa saat ini di bawah rata-rata lima tahun membuat pasar sangat sensitif terhadap setiap sinyal cuaca dingin. Namun ekspektasi Super El Niño yang kini melemah membuat proyeksi permintaan musim dingin lebih moderat. Prediksi NOAA dan ECMWF menjadi acuan utama trader.
Key Takeaways
- LPG 3 kg subsidi tetap Rp19.000 di pangkalan, dijamin tidak naik hingga akhir 2026 dengan stok aman
- Bright Gas tidak berubah: Rp107.000 (5,5 kg) dan Rp230.000 (12 kg) untuk wilayah Jawa
- Henry Hub jatuh ke US$2,79/MMBtu, terendah dalam sebulan; cuaca ringan dan sinyal Super El Niño yang melemah menekan permintaan
- JKM koreksi ke US$29,63 dari rekor tertinggi 12 bulan US$30,09; TTF turun ke €86,65 setelah sempat tertinggi sejak 2022
- Aramco CP Oktober tetap tinggi (propana US$680, butana US$730); CP November menunggu pengumuman akhir Oktober
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual komoditas energi. Harga dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar. Selalu verifikasi harga terkini dari sumber resmi sebelum melakukan transaksi.
Sumber data: Pertamina Patra Niaga, Kementerian ESDM, TradingEconomics, EnergyRiskIQ, Tindex, BMI Research, Reuters | Penulis: Dana Putra