INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Peluang investasi properti di Indonesia mulai bergerak ke arah yang lebih luas, tidak lagi terpusat di Jakarta maupun bergantung pada sektor properti konvensional. 

Perkembangan infrastruktur, diversifikasi industri, digitalisasi, hingga meningkatnya kebutuhan akan bangunan berkelanjutan menjadi faktor yang membuka potensi pertumbuhan baru di berbagai wilayah.

Perusahaan konsultan properti global JLL menilai, perubahan pola aktivitas ekonomi di Asia Tenggara turut menciptakan peluang investasi properti di luar pusat bisnis tradisional. 

Di Indonesia, kawasan industri, pusat data, serta optimalisasi bangunan lama menjadi tiga sektor yang dinilai memiliki prospek menarik untuk dikembangkan.

Peluang tersebut muncul di tengah perubahan lanskap ekonomi global yang dipengaruhi fragmentasi geopolitik, diversifikasi rantai pasok, investasi infrastruktur, serta tuntutan standar keberlanjutan yang semakin tinggi.

Country Head JLL Indonesia, Farazia Basarah, mengatakan Indonesia tengah memasuki fase baru dalam perkembangan sektor real estat. Pertumbuhan pasar tidak lagi hanya ditentukan oleh permintaan, tetapi juga oleh perubahan pola aktivitas ekonomi dan munculnya sektor-sektor baru.

“Jakarta tetap menjadi pusat ekonomi utama Indonesia, namun dalam jangka menengah, peluang yang semakin menarik justru terletak pada bagaimana regulasi pemerintah, pembangunan infrastruktur dan investasi membantu membangun ekosistem ekonomi baru di berbagai wilayah lain di negara ini,” ujar Farazia.

Salah satu wilayah yang mendapat perhatian adalah Jawa Tengah, khususnya Batang, Kendal, dan Semarang. Ketiga kawasan tersebut dinilai berpotensi menjadi pusat pertumbuhan industri baru seiring dukungan infrastruktur dan perkembangan sektor manufaktur.

Selain Jawa Tengah, pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) di Jabodetabek, Bali, Batam, serta sejumlah lokasi strategis lainnya turut membuka peluang bagi berbagai sektor properti.

Permintaan tidak hanya datang dari kawasan industri dan logistik, tetapi juga dari sektor layanan kesehatan, pusat data, perkantoran, ritel, hingga perhotelan.

Pembangunan infrastruktur utama turut memperkuat prospek tersebut. Pengembangan fase kedua MRT Jakarta, rencana perpanjangan jaringan kereta cepat, serta pengembangan Pelabuhan Patimban menjadi bagian dari upaya meningkatkan konektivitas antarkawasan dan mendukung penyebaran aktivitas industri.

Kondisi ini berpotensi mendorong pertumbuhan properti yang lebih terdesentralisasi, sekaligus memperluas pilihan lokasi bagi investor dan perusahaan yang ingin mengembangkan kegiatan bisnisnya di Indonesia.

Meski peluang pertumbuhan semakin tersebar ke berbagai wilayah, Jakarta diperkirakan tetap memegang peranan penting sebagai pusat bisnis dan ekonomi nasional.

JLL juga melihat tren flight to quality, yakni kecenderungan perusahaan memilih properti dengan kualitas lebih baik, masih menjadi bagian dari dinamika pasar. Perusahaan semakin memperhatikan kualitas ruang kerja untuk menarik dan mempertahankan talenta.

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur dan penyediaan lahan di kawasan perkotaan yang berkembang turut mendukung agenda desentralisasi di berbagai negara Asia Tenggara.

Country CEO & Southeast Asia JLL, Michael Glancy, menilai perubahan tersebut menjadi salah satu perkembangan penting yang perlu dicermati oleh pelaku pasar properti.

“Sentralisasi dan tren flight to quality masih menjadi bagian dari dinamika pasar, begitu pula upaya meningkatkan kualitas ruang kerja untuk menarik dan mempertahankan talenta. Di sisi lain, pemerintah di berbagai negara Asia Tenggara semakin mendorong agenda-agenda desentralisasi melalui pembangunan infrastruktur dan penyediaan lahan di kawasan perkotaan yang tengah berkembang,” ujar Michael.

Menurutnya, kolaborasi dengan pemerintah juga menjadi bagian dari upaya mendukung pengembangan kawasan yang menjadi target pertumbuhan ekonomi.

Head of Research & Advisory for Southeast Asia JLL, Dr. Yang Liang Chua, mengatakan Indonesia masih menjadi salah satu tujuan investor di kawasan Asia Tenggara. Meski demikian, pasar properti kini semakin selektif sehingga pemilihan aset dan strategi investasi menjadi semakin penting.

“Ke depan, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh eksposur terhadap kawasan secara luas, tetapi juga oleh kemampuan investor menempatkan modal secara tepat pada koridor, sektor, dan strategi aset yang memiliki prospek terbaik,” ujar Yang.