INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Ketidakpastian ekonomi global, dinamika geopolitik, dan transformasi digital menjadi tantangan yang perlu diantisipasi Indonesia dalam menghadapi 2027. Di tengah kondisi tersebut, penguatan perencanaan keuangan dan pengelolaan risiko dinilai semakin penting bagi masyarakat maupun pelaku usaha untuk menjaga stabilitas finansial dan menangkap peluang pertumbuhan.
Hal ini menjadi salah satu sorotan dalam forum FWD Economic Outlook 2027 bertema Navigating Tomorrow with Confidence yang diselenggarakan PT FWD Insurance Indonesia di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/10/2026).
Forum tersebut menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari regulator, lembaga penjamin simpanan, ekonom, hingga lembaga riset untuk membahas prospek ekonomi, perkembangan industri keuangan, dan perubahan perilaku konsumen dalam menghadapi dinamika ekonomi pada tahun mendatang.
Ekonom senior Dr. Agustinus Prasetyantoko memproyeksikan ekonomi global tumbuh 3,4% pada 2027. Sementara itu, kawasan Emerging and Developing Asia, yang mencakup Indonesia, diperkirakan mencatat pertumbuhan sebesar 4,9% pada periode yang sama.
Meski prospek pertumbuhan masih terbuka, Agustinus mengingatkan bahwa ketidakpastian global menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dan efektivitas kebijakan pemerintah.
“Berdasarkan World Uncertainty Index, dunia pada tahun 2026 menghadapi tingkat ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi ini perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas serta menopang pertumbuhan ekonomi,” ujar Agustinus.
Menurut dia, dinamika global yang semakin kompleks menuntut pemerintah dan pelaku usaha untuk memperhitungkan berbagai risiko dalam menyusun strategi ekonomi. Kemampuan mengantisipasi perubahan menjadi penting agar peluang pertumbuhan dapat dimanfaatkan tanpa mengabaikan stabilitas.
Di sisi lain, kepercayaan terhadap sistem keuangan juga menjadi faktor penting untuk mendukung aktivitas ekonomi. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai peningkatan kepercayaan dapat menekan biaya pembiayaan sekaligus mendorong investasi yang lebih produktif.
Dalam forum tersebut, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu yang diwakili Direktur Eksekutif Surveilans, Pemeriksaan, dan Pengaturan Bank LPS Ridwan Nasution menegaskan bahwa kepercayaan merupakan modal ekonomi yang nyata untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% pada 2027.
“Ketika kepercayaan meningkat, risk premium menurun, biaya pembiayaan juga akan menurun, investasi meningkat, dan sumber daya dapat dialokasikan secara lebih produktif,” ujarnya.
Untuk membangun kepercayaan tersebut, LPS menyoroti lima aspek utama, yakni kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter, percepatan investasi dan reformasi, integritas pasar keuangan, stabilitas perbankan, serta peningkatan produktivitas.
LPS juga menekankan pentingnya menjaga kredibilitas pasar modal agar investor memiliki keyakinan terhadap mekanisme perdagangan dan perlindungan kepentingan pelaku pasar.
“Pasar modal yang kredibel bukan pasar yang selalu naik, melainkan pasar yang transparan, adil, likuid, dan dapat dipercaya ketika harga naik maupun turun,” kata Ridwan.
Penguatan kepercayaan juga menjadi perhatian dalam industri asuransi. LPS mendapat mandat berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 mengenai Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) untuk menjalankan Program Penjaminan Polis Asuransi.
Program tersebut ditujukan untuk memberikan perlindungan kepada pemegang polis, meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap industri asuransi, serta mendukung pertumbuhan industri yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Dalam paparannya, Anggito menyampaikan bahwa aktivasi Program Penjaminan Polis Asuransi dipersiapkan pada 2027. Program ini diharapkan memperoleh dukungan dari seluruh pelaku industri agar implementasinya berjalan sesuai tujuan perlindungan konsumen.
“Kepercayaan tidak dibangun oleh janji, melainkan oleh kinerja,” tegasnya.
Dari sisi regulator, Deputi Komisioner Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Iwan Pasila mengatakan, perkembangan industri keuangan di tengah perubahan ekonomi dan transformasi digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi perusahaan asuransi jiwa.
Karena itu, regulator dan pelaku industri perlu memperkuat kolaborasi, terutama dalam pengelolaan risiko, peningkatan kapasitas perusahaan, dan pengembangan sumber daya manusia.
“Regulator dan Industri Perasuransian perlu berkolaborasi untuk melakukan penguatan pengelolaan risiko, peningkatan kapasitas, dan peningkatan kemampuan SDM yang ada untuk dapat tumbuh sehat dan berkelanjutan di tengah tantangan yang ada,” ujar Iwan.
Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan industri asuransi yang lebih sehat, inklusif, inovatif, dan berkelanjutan, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap perlindungan finansial.
Selain membahas prospek makroekonomi dan industri keuangan, FWD Economic Outlook 2027 turut mengungkap perubahan perilaku masyarakat dalam memandang asuransi jiwa melalui studi Life Insurance Usage and Attitude Study – Economic Outlook 2027 yang dilakukan Ipsos.
Hasil studi menunjukkan bahwa sebanyak 58% responden menyatakan tujuan investasi sebagai motivasi utama memiliki asuransi jiwa. Sebanyak 41% responden ingin menyediakan dana warisan bagi keluarga, sedangkan 39% lainnya menginginkan ketenangan batin.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa asuransi jiwa semakin dipertimbangkan sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang, selain sebagai instrumen perlindungan terhadap risiko yang tidak terduga.
Kepercayaan terhadap perusahaan, reputasi, variasi produk, dan dukungan agen menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi keputusan masyarakat dalam memilih asuransi jiwa. Di tengah perkembangan layanan digital, interaksi langsung dengan agen juga masih memiliki peran besar dalam membangun pemahaman dan kepercayaan konsumen.
Studi Ipsos mencatat sebanyak 80% responden menjadikan agen sebagai sumber utama untuk mengenal produk asuransi. Sementara itu, 51% responden menyebut agen sebagai faktor yang paling memengaruhi keputusan pembelian.
Direktur Riset Ipsos Indonesia Dini Islami mengatakan, kebutuhan masyarakat terhadap asuransi kini semakin berkaitan dengan perencanaan masa depan dan kesejahteraan keluarga.
“Menurut studi kami, konsumen semakin memandang asuransi jiwa sebagai bagian dari perencanaan masa depan, bukan hanya sebagai perlindungan terhadap risiko yang tidak terduga,” ujar Dini.
Ia menjelaskan, agen memiliki peran sebagai sumber informasi sekaligus mitra tepercaya yang membantu masyarakat memahami berbagai pilihan perlindungan, menjawab pertanyaan, dan menentukan produk sesuai kebutuhan serta tujuan keuangan masing-masing.
Direktur Utama FWD Insurance Jeffrey Woo mengatakan, perubahan ekonomi pada akhirnya tidak hanya tercermin dalam indikator makroekonomi, tetapi juga memengaruhi keputusan individu dan keluarga dalam mempersiapkan masa depan.
“Perubahan ekonomi tidak hanya berbicara mengenai angka dan indikator, tetapi juga tentang individu dan keluarga yang sedang mengambil keputusan untuk masa depan mereka. Di FWD Insurance, kebutuhan nasabah selalu menjadi pusat dari apa yang kami lakukan,” kata Jeffrey.
Menurut dia, pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat menjadi landasan bagi perusahaan untuk menghadirkan solusi perlindungan yang relevan di tengah perubahan. FWD Insurance berupaya memperkuat pengalaman nasabah, inovasi, kapabilitas digital, edukasi keuangan, serta kemitraan yang tepercaya.
Melalui forum tersebut, FWD Insurance berharap masyarakat dan pelaku usaha memperoleh perspektif yang lebih luas mengenai perubahan ekonomi, sehingga dapat mengidentifikasi peluang sekaligus mengelola risiko dengan lebih baik.
“Kami berharap berbagai pemaparan dan wawasan yang dibagikan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, pelaku industri, dan dunia usaha dalam memahami perubahan, menangkap peluang, serta mempersiapkan langkah ke depan,” tutup Jeffrey.